Tuesday, November 9, 2010

Pertarungan Para Dewa

Kisah ‘Pertarungan Para Dewa’ atau Clash of the Titans adalah salah satu kisah legenda Yunani yang cukup terkenal dan bahkan sudah pernah difilmkan oleh sutradara Hollywood. Kisah ini adalah kisah yang sangat menarik untuk diperhatikan, terutama di masa sekarang ini yang konon katanya penuh dengan bencana dari Tuhan. Kisah ini dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana: mengapa para dewa begitu kejam menyiksa manusia? Mengapa para dewa begitu bengis, memaksa manusia untuk memberikan berbagai macam persembahan, dan sesudah semuanya dipenuhi, toh akhirnya manusia pula yang disiksa dengan berbagai cobaan?

Adalah Perseus, seorang manusia setengah dewa, anak haram dewa Zeus, yang dibesarkan oleh keluarga nelayan yang mengasihinya dengan sepenuh hati. Ia begitu sayang kepada orang tua angkatnya, manusia yang lemah dan ringkih ini, sehingga ia merasa kasihan pada mereka dan justru marah pada dewa. Mengapa orang-orang baik ini, nelayan tak berdosa ini, seolah-olah diperas habis-habisan oleh dewa-dewi di Olympus, yang seharusnya melindungi dan mengasihi manusia? Apalagi, ketika Hades, Dewa Kegelapan, seenaknya mengirimkan bala tentara setan yang tanpa sengaja membunuh orang tua angkat Perseus. Perseus pun murka.

Perseus kemudian bersumpah, akan menggunakan kekuatan manusia – tanpa ke-dewa-annya – untuk membunuh Hades dengan cara menghancurkan Kraken, mahluk mahamengerikan ciptaan Hades yang bisa memunahkan umat manusia. Perseus pun berjuang menghadapi penyihir Stygi, hantu Djinn, bahkan berhasil memotong kepala Medusa, dewi mengerikan berambut ular yang bisa mengubah semua mahluk yang dipandangnya menjadi batu. Sepanjang perjalanan, Perseus terus memperjuangkan kemanusiaannya, dengan sesedikit mungkin menggunakan kekuatan mukjijat, melainkan dengan tipu muslihat dan akal sederhana, sampai ia bisa mengakali para dewa. Toh, Zeus, sang ayah, tidak tinggal diam. Ia mengirimkan Pegasus, kuda bersayap kendaraannya, dan sebilah pedang yang ditempa di Olympus, yang sanggup memenggal kepala seorang dewi seperti Medusa sekalipun.

Tapi, apakah Zeus membantu Perseus dengan melontarkan petir pada setiap lawan yang dihadapinya? Tidak. Zeus duduk memandang dengan cemas di Olympus, berharap Perseus menang. Perseus tidak serta-merta menang dengan kuda terbang dan pedang. Ia harus bertarung, memeras akal, dan melalui gunung-gemunung dan sungai maut untuk mencapai tujuannya. Namun, Perseus akhirnya berhasil. Ia potong kepala Medusa, dan dibawanya ke hadapan Kraken, sehingga Kraken, raksasa mengerikan itu, menjadi batu dan kemudian hancur berantakan. Hidup manusia! Teriak Perseus ketika Kraken yang bersiap menelan semua mahluk hidup, kini menjadi batu yang retak berguguran.

Kisah ini memang sebuah adaptasi, namun mengandung makna filosofis yang cukup mendalam. Pertanyaan pertama masih belum terjawab: mengapa Tuhan merancang begitu banyak bencana bagi manusia? Mengapa semua persembahan dan doa yang dipanjatkan, semua dzikir dan pertobatan yang diteriakkan, kadang-kadang seolah jatuh ke sepasang telinga yang tuli? Toh, gunung tetap meletus, tsunami tetap menerjang, dan badai tetap mengamuk? Inilah titik dasar dari pergumulan dalam kisah ini. Dengan demikian, apakah manusia masih harus berdoa dan bersembahyang? Apakah sudah tidak ada gunanya lagi, memberikan persembahan dan bertobat? Lalu, pertanyaan akhir yang selalu muncul: dengan demikian, apakah Tuhan ada?

Kisah Pertarungan Para Dewa merupakan sebuah kisah yang sangat tepat melukiskan pergumulan ini. Manusia memang tidak bisa bertopang dagu saja – kita perlu seorang Perseus. Seorang pemimpin, yang berani lantang berteriak untuk menantang para dewa. Seseorang yang berani menghunus pedang dan berbuat sesuatu, untuk melawan apa yang terjadi. Bukan dengan doa, bukan dengan dzikir, dan bukan dengan lebih banyak lagi persembahan. Tetapi dengan sebilah pedang, dan semangat kemanusiaan, bahwa apapun masalah yang ada, bisa ditaklukkan: apakah itu kepala Medusa berambut ular yang harus dipotong ataupun Kalajengking Raksasa di padang gurun. Ya: semuanya harus dilawan dengan sabetan pedang, cipratan darah, dan keringat. Tapi, Perseus akhirnya menang!

Perseus memiliki makna berbuat sesuatu. Inilah yang kurang kita lakukan. Setiap kali ada bencana, yang diteriakkan adalah keprihatinan, kesedihan, teriakan dzikir dan doa, memohon pada Tuhan supaya bencana berhenti. Kita seperti Spyros, nelayan ayah angkat Perseus, yang hanya bisa meratap lalu mati ditelan ombak! Bahkan manusia seperti ini, seolah dengan mudah saja ‘menyalahkan’ Tuhan atas bencana yang terjadi, sebagai pelarian untuk lepas tanggung jawab, padahal bencana itu terjadi karena kelalaian sendiri.

Coba ingat ‘bencana’ Situ Gintung yang sebenarnya bukan ‘bencana’, melainkan sebuah kelalaian murni. Lihatlah betapa pemuka agama waktu itu berteriak pada semua orang untuk ‘tabah atas cobaan Tuhan ini’? Ini sama sekali bukan hasil karya Tuhan, bahkan Tuhan bisa tersinggung dengan pernyataan ini. Bukan Dia yang membangun situ, bukan Dia pula yang membangun rumah di jalur situ, dan bukan Dia pula yang bertugas mengontrol keretakan dindingnya! Dia hanya menciptakan hukum Fisika, yang merumuskan bahwa air yang terus menerus ditambahkan pada sebuah bejana berdinding tipis akan mampu menjebol dinding tersebut. Lalu, kita sebut ini ‘cobaan Tuhan’? Mohon maaf – ini murni manusia yang mencobai manusia lainnya!

Lalu bagaimana dengan tsunami, bencana gunung berapi? Untuk ini, kita harus melihat bagaimana prinsip Perseus mendasari pemikiran bangsa Eropa. Di Jerman, saya pernah menghadiri sebuah rapat didalam ruangan yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Padahal, waktu itu bulan Desember dan angina bertiup kencang sekali. Pohon cemara melambar-lambar, menghamburkan salju yang turun kebawah, sementara di atas tanah sudah ada 40 cm salju yang menumpuk sejak kemarin. Suhu diluar -15oC. Tapi, kami bisa duduk nyaman di ruangan itu. Suhu ruangan 28oC, tak sedikitpun angina dari luar terasa masuk ke ruangan. Padahal, pemandangan indah bisa kami nikmati lewa kaca. Bagaimana caranya? Dengan doa? Dzikir? Persembahan? Tidak! Dengan teknologi. Seluruh kaca terbuat dari silica dengan teknologi tertentu yang anti-pecah, merupakan system kaca ganda dengan gas Argon yang diinjeksikan diantara dua kaca agar hawa dingin terinsulasi. Dinding, penyekat, atap, bahkan tiang penyangga, semua didesain untuk menahan dingin dan menyimpan panas. Inilah pedang Perseus yang ditempa di Olympus. Dengan teknologi, orang Jerman bisa mengalahkan cuaca, sementara orang di Mongolia, Cina, atau India, masih harus meringkuk kedinginan di musim dingin yang tidak sedingin di Jerman hari itu.

Indonesia perlu Perseus – yang tidak menyerah dan berdoa, apalagi menyerahkan tanggung jawab pada Tuha. Indonesia perlu Perseus, yang menggunakan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk melindungi diri dari kemungkinan bencana. Bahwa kita lahir di sebuah pulau yang dikelilingi laut dan memiliki gunung berapi di tengahnya, sudah bukan rahasia lagi sejak awal. Lalu mengapa kita masih gelagapan menghadapi tsunami dan letusan gunung api? Karena kita masih Spyros, belum Perseus. Nah, celakanya, Perseus ini harus dating dari Indonesia dan tidak bisa diimpor dari Eropa atau Amerika. Karena, tidak ada satupun Negara di dunia ini yang memiliki gunung api dan garis pantai sepanjang Indonesia. Kita tidak bisa bertanya pada orang Barat atau Jepang atau Cina, bagaimana menghadapi letusan gunung berapi dan tsunami. Teknologinya harus dating dari kita sendiri! Apakah dengan cara mengukur suhu perut bumi, atau dengan mengukur getaran gempa secara tiga dimensi, atau dengan melakukan finite element analysis terhadap pergerakan pelat bumi? Wallahualam. Yang jelas, sesuatu harus dilakukan – seperti Perseus, kita harus berjuang, meneliti, mengeluarkan energi dan dana, untuk melindungi kita dari kemarahan para dewa. Tidak pernah cukup hanya berdoa dan bersembahyang!

Lalu, apakah Tuhan diperlukan? Toh, di kisah ini, Perseus tidak mungkin menang tanpa pedang yang ditempa di Olympus, bukan? Perseus tidak mungkin menang tanpa Pegasus, tanpa bantuan dari Io, maupun tanpa tiga tali keeping Drachma untuk sang pengemudi perahu, bukan? Ya – Tuhan itu ada dan Ia pasti akan bertindak. Namun, jangan berharap Tuhan akan turun dari langit dan membereskan masalah kita semua – hanya karena kita berdoa dan berdzikir. Berdoa bagus, berdzikir apalagi. Tapi, keduanya harus disertai dengan perbuatan – pertempuran, sabetan pedang – supaya perang bisa dimenangkan. Toh, Zeus tersenyum bangga ketika Perseus bisa menyelamatkan manusia dengan usahanya sendiri. Tuhan pun, akan tersenyum bangga jika kita, bangsa Indonesia, bisa menghadapi bencana-bencana dengan rencana teknis dan taktis yang bisa melindungi kita dari fenomena ala mini. Ia justru akan murka, ketika doa dan dzikir dijadikan alat untuk melempar tanggung jawab dari manusia, kepada Tuhan yang tidak bersalah!

Thursday, July 15, 2010

Berdamai Dengan Kematian

Menghadapi kematian memang gampang-gampang susah. Gampang, karena mengucapkan kata 'mati' itu lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata "Mampus lu!" atau "Mati dah gua..." sering sekali kita ucapkan, baik sengaja maupun tidak, hehe. Bahkan mati seolah-olah menjadi pilihan dalam hidup, seolah-olah sebagai emergency button yang kadang-kadang dengan warnanya yang merah dan bentuknya yang menonjol dengan sexy-nya, menggoda kita untuk menekannya. Padahal, kematian yang sesungguhnya, apalagi yang tidak diduga-duga, sangat lain bentuknya dengan 'mampus' yang kita lafalkan. Kematian yang sesungguhnya sangat berat, karena merupakan sebuah kondisi yang konstan, padahal hidup ini tidak ada yang konstan. Makan, lapar lagi. Kaya, bisa miskin. Mati adalah konstan, sehingga kadang-kadang pikiran kita seolah-olah ditampar berkali-kali setiap kali dia mengecek kenyataan dan mendapatkan bahwa yang mati tetaplah mati dan belum berubah.

Tahap pertama dalam menghadapi kematian pasti adalah menerima kematian itu. Sebenarnya penerimaan ini bukan pilihan - mau tidak mau ya harus diterima. Hanya, memang pikiran dan jiwa manusia butuh waktu untuk me-register dalam prosesornya bahwa yang bersangkutan sudah tidak ada. Pikiran kita berkali-kali mengecek kenyataan, bahkan rasanya tidak akan kaget bila yang sudah meninggalkan kita itu masih mengirim sms atau pesan facebook. Ini adalah sebuah proses yang sangat-sangat melelahkan, karena berkali-kali proses pengecekan dilakukan, berkali-kali pula kita disadarkan akan kepahitan dan kehilangan yang terjadi. Lalu muncul pertanyaan yang paling jahat: mengapa? Dan demikian seterusnya.

Tetapi, Tuhan memang Maha Adil. Beliau sudah menyiapkan suatu sistem dalam jiwa kita yang membuat proses ini tidak berlangsung selamanya. Otak dan hati kemudian akan mulai belajar menerima kenyataan kehilangan tersebut. Hati dan pikiran mulai sedikit rileks, tidak lagi melakukan mengecekan berulang-ulang. Ini berarti kehilangan yang bersangkutan sudah diregister dalam alam bawah sadar kita. Hidup mulai kembali normal, biasanya dalam jangka waktu setahun setelah kehilangan. Saya sendiri merasa heran, betapa besar perbedaan antara setahun sebelum dan sesudah kehilangan. Tuhan memang Maha Adil.

Sesudah bisa menerima, tahap berikutnya adalah hidup dengan kematian. Ini artinya, antara hidup dan kematian berjalan berdampingan. Hati dan otak sudah meregister bahwa yang bersangkutan sudah tidak ada. Hidup berjalan kembali. Matahari terbit dan tenggelam, anak-anak lulus dan pindah sekolah. Tapi, yang bersangkutan tetap tidak ada. Otak sudah tidak teriak lagi, tetapi masih diam. Tidak berceloteh. Hidup diusahakan berjalan tanpa yang bersangkutan. Kalau bisa jangan diingat, kalau bisa ditiadakan. Kalau bisa jangan dibicarakan, supaya hidup tidak terganggu. Tapi, masalahnya, kematian adalah konstan. Mau dicuekin pun, kematian tetap ada di pojok. Menyeringai dengan jahatnya. Begitu kita sedih, begitu otak lelah dan lengah, kematian menelusup masuk. Mengungkit kenangan dan argumen lama. Keluarlah kalimat pengandaian yang paling jahat: seandainya... kalau waktu itu...

Inilah yang disebut hidup dengan kematian. Hidup berjalan, kematian juga berjalan. Berdampingan, sikut-sikutan. Masing-masing berebut perhatian otak dan hati kita. Masing-masing berusaha menarik perhatian nurani dan jiwa kita. Masing-masing teguh berada di tempatnya, membuat kita seolah tercabik di tengah-tengah. Hidup menjadi kosong, karena kita berada diantara hidup dan kematian. Ke kiri tidak, ke kanan tidak. Lama-lama, tenaga akan habis, dan kepahitan akan menaklukkan optimisme kita. Itu kalau kita tenggelam dalam tahap ini, dan tidak berbuat sesuatu untuk maju ke tahap berikutnya!

Apakah tahap berikutnya? Berdamai dengan kematian. Sebuah kata-kata indah yang saya dapatkan dari sebuaj episode Kick Andy di MetroTV. Episode yang mengisahkan keluarga yang ditinggalkan sanaknya ketika menjadi korban jatuhnya pesawat Adam Air beberapa tahun lalu. Trenyuh melihat mereka di TV. Saya baru kehilangan seorang adik saja sudah begini, apalagi ini, satu keluarga seketurunan hilang semua dalam waktu singkat. Namun, judul episode ini membuat saya tersentuh, karena inilah tahap berikutnya. Kita harus berdamai dengan kematian.

Maksudnya berdamai adalah, kenyataan kehilangan bukan lagi dianggap sebuah tabu. Orang yang kita cintai tidak lagi kita simpan dalam-dalam dalam kotak hati yang tertutup rapat, kalau bisa jangan diperlihatkan siapa-siapa. Kenangan-kenangan yang ada kita buang, kita letakkan nun jauh disana, kalau bisa jangan teringat lagi. Ini bukan damai namanya, ini berarti musuhan dengan kematian. Kematian kita anggap musuh, kita jauhkan, kita lupakan. Namun, sudah menjadi sifat kematian yang sangat konsisten. Seringainya tetap tersungging di pojok saja, dan ia akan kembali sejauh apapun kita berusaha menghindar. Ingat, kita selalu berubah, sementara kematian konstan. Ia persisten. Ia tetap disana, sementara kita bolak-balik. Dalam proses bolak-balik ini, pasti satu atau dua kali kita bersenggolan dengan kenangan kematian, dan seringainya sekali lagi melemahkan kita.

Berdamai berarti berjalan berdampingan dengan kematian. Berdamai berarti mengenang orang terkasih sebagaimana adanya. Berdamai berarti tidak menghindar dari kenangan kematian, tetapi bergandengan tangan dan melangkah bersama mengarungi kehidupan. Mengganggap kematian sebagai sebuah kenyataan pahit yang akan membawa berkah, yang sudah terencana. Menerima, bahwa rencanaNya diatas rencana kita. Mengakui, bahwa toh kita semua akan berakhir sama - kita hanya berbeda waktu. Jadi, untuk apa ditangisi? Untuk apa dihindari? Waktu toh sama konsistennya dengan kematian. Waktu toh tidak bisa kita rem atau kita percepat. Waktu kita sendiri, tidak bisa sedetikpun kita percepat atau perlambat. Jadi, nikmati saja! Waktunya akan tiba bahwa kita berkumpul kembali. Kenanglah waktu-waktu yang lalu, bersiaplah menuju waktu yang akan datang, tiba waktunya.

Tuhan memang Maha Adil. Ketika Ia menciptakan kematian yang konstan, ia juga menciptakan waktu yang sama konstannya. Waktu pada akhirnya akan menang, sampai Ia datang untuk kedua kalinya. Untuk apa kita kuatir?

Berdamai dengan kematian berarti menghargai kematian dan kehidupan apa adanya. Berdamai dengan kematian berarti mengenang yang tercinta dengan terbuka, tidak menyimpannya dalam hati. Berdamai dengan kematian adalah langkah terakhir, yang tidak jatuh dari langit, tetapi sesuatu yang harus kita usahakan. Harus kita perjuangkan, dan menjadi pembelajaran besar buat hati kita. Itulah sebabnya banyak sekali jiwa-jiwa besar hidup di tahun 1960-an. Karena, begitu banyak orang pada waktu itu didera kehilangan hebat akibat Perang Dunia II. Lihat apa akibatnya! Mereka keluar sebagai pemenang, jiwa mereka kuat, hatinya teguh, jauh jika dibandingkan dengan generasi sekarang. Itulah manfaat dan kekuatan yang diperoleh dari perdamaian dengan kematian.

Jadi, berdamailah dengan kematian. Jangan musuhi dia, jangan hindari dia. Hadapi dia - jabatlah tangannya. Nicaya seringai sinis itu akan menjadi senyum manis, dan kenangan yang dulu indah, akan menjadi indah kembali.

Toh.... kita cuma berbeda waktu!

3 Tahun Meninggalnya dr. Erina Natania Nazarudin
Kedoya, 15 Juli 2010

Monday, February 15, 2010

On Being 33

“I’m 33 at the moment,

I’m still a man, but you see I’m a they

Kid on the way, babe, a family on my mind…”

‘100 years’ by Five for Fighting

Well, yes, fellas, I officially turn 33 today.

If I think about it, 33 ain’t so bad. And for me becoming 33, it ain’t so bad either. I think I have achieved, thanks to the blessings of the the Lord, more things than most 33-year-olds can achieve.

This year, for example, I have made a step in my career to move into a new position abroad. This brings me out from good old Indonesia, at least officially, to the ever-progressing China. I moved from the sleepy Jakarta suburb by the name of LIPPO Cikarang to a busy suburb of Shanghai, a city called Kunshan. I have established my position in the organization, fought through a painful merger process, and finally decided to start a brand new department, dealing with tissue. From my humble beginnings in oversized working clothes blotted with oil stains and polyurethane splashes in the sleepy town of Karawang, I have turned into an indonesian expatriate (not many of us around) showing up everyday with a suit and a tie in a high-tech office near Shanghai. I talk, discuss, and debate with much older foreigners from a much more advanced countries, in 2 different languages. Sometimes I show myself as a selfish kid who wants to change the world, with baldening hair and a double chin. Short, talks too much, with a loud voice, always seems angry and intimidating when I state my opinion, although really, I am not. That’s just the way it is, if I feel the fire about something. Not bad, for a 33 year old.

From the traveling world, I still kept my promise to visit 2 new islands or provinces every year in Indonesia. This year has brought me to see the city of Balikpapan and Tenggarong in Borneo, my first venture to this island (second, if you count my transit from Manado to Jakarta 2 years ago). I saw Balikpapan’s beautiful moon bear reserve and strange ‘orange durian’ fruit. The second opportunity was Lampung, with a wonderful jungle adventure trip in Way Kambas. I traveled to Japan, the wonderful city of Matsuyama, dipped my bare body in the oldest hot bath in the country. I traveled to South Korea, visiting the serene temple of Daeheung-sa. The crown jewel was of course a visit to the Taj Mahal in Agra, India, which changed my whole perspective on love. New year’s eve was in Singapore, watching the beautiful firecracker show in the Esplanade. Not bad, for the 33rd year of one’s life.

In the hobby world, some achievements have also been made. I wrote several articles to the Jakarta Post after seeing many interesting concerts. One of them was a performance by the Nusantara Symphony Orchestra in Balai Sarbini, Jakarta. One article was also published about my journey through the jungle in Lampung. I continuously write for Jalansutra mailing list, travel reviews of India and Japan, which both receive very warm respond from the forum. After moving to China, I write quite a lot of christian articles, each one replaces every missed visit to the church (either if I am in China or if I wake up too late in Jakarta). All in all, quite well, for a 33 year old while busy traveling the world and working abroad.

From the financial side, it has also been not so bad, although there are still challenges for the future. My house is completely paid for this year, which I learned about after the bank rejected my installment for the mortgage (What was the problem? Why was the transfer rejected? Hello? Oh, all paid for? No more mortgage payment? I tell ya, it takes some getting use to not paying anything after all these years of mortgage installments). Then I applied for a business mortgage, renew the machines of my laundry, refurbished the whole house/laundry, making part of my dream ‘to live in a house that looks and feels just like a room at the JW Marriott Hotel Surabaya’ partly come true (32 inch flat TV, yes, air conditioning, yes, carpet and sofa, naaaah). The laundry is now gearing up to pay the mortgage, still struggling with manpower and low orders. We’ll manage. Not bad, for a 33 year old businessman wannabe.

But still, I am not happy. I know God has blessed me with all these, and I am sure he is smiling now at me, looking down on me, sitting in my room in Tomang, writing on my laptop. Do you want to know, what I think he’s saying? “OK now boy, watcha gonna do?”. That’s that.

Yes, when you’re young, and by ‘young’ I can still gladly say, in the 20-s, the world belongs to you. You have nothing, zero, and can only progress to positive, even with the slightest progress. So, you have nothing to loose! You think you can do something, and you do it. And for someone like me, I think I can do everything. I dare to try, that’s my philosophy. Managing position? Why not! Washing other people’s underwear to earn money? Hell, I can do that! Writing as a part-time journalist? Oh yeah, bring it on. Writing a travel journal? That’s a piece of cake! Have your own business? Come to papa!

So here I am, a most-of-the-time expatriate manager, part-time laundry owner, part-time journalist, part-time travel writer, part-time business owner. All in parts, nothing in wholes!

And when I get to know that Pramoedya Ananta Toer dedicated all of his life to writing, even without pen and paper; that Warren Buffet dedicated his life to investing, even without an inheritance; that Bill Gates dedicated his life to software, even without a degree in computing; I blushed. Here I am, a 33 year old, achieving partly of everything and being really good at nothing. Not good, not good at all.

I remembered in my high school days, when I was in the same situation. I tried to play organ, learn karate, study, and became active in student’s organizations, until I get sick of all of them. Then, I met a bunch of friends who were doing nothing but playing all day, from house to house, from one video game to another. Then I told my mom and dad, that I want to stop trying so hard. I want to relax now, afterall, highschool years come only once in life. I just want to enjoy life, hang with my friends, have fun. I warned them that my performance at school was probably going to slightly slip from the usual no. 8th or 9th. They said, yes, by all means, do it. And I did it. And you know what? My performance was not worse, it was better! My rank was lifted up to 3rd, 2nd, even 1st at times. I excelled far better then I was before, until I was eligible for the best Technical Institute in the country (that was when all the fun stop, though). Anyway, I felt ‘the call of nature’ back then to relax, and just do what I enjoy the most, forget trying to be best at everything, just be excellent at one thing. And I did. And I was.

Now, I am feeling this ‘call of nature’ again. I think, I have to do something. I have to forget trying to be best at everything, and seek out within myself, what I want to do the most. Is it becoming a professional manager with suits and ties? Or an enterpreneur with laundry uniform? Or a writer and a journalist? I believe I have the talents from God to do these things. That’s why, even with so little time invested, I still get good responses. But without focus, it’s nothing. It’s just occasional blogs, without a book, occasional articles, without front-page, occasional manager, without the board. So I have to be serious now, because like high school times, 30-s also only happens once in life. Once I screw up here, I’d be too old for everything, too late for anything, and it’ll be too long to achieve something. I have to stop, tell myself to relax, and do the things I like to do the most, and focus on it. Then, I’d become someone.

What do I want to achieve anyway? An interesting comment came from one of my closest friends. When I told her about my achievements in business life, with salaries, status, and management levels, she smiled. “That’s not what you’re looking for, isn’t it? You are aiming for something else, aren’t you?”. Yes. She is right. I don’t think I want to be remembered as a manager who successfully manage a division until retirement. I don’t think I want to be remembered as a businessman who marvels in cheating banks into giving credits that made me a millionaire. Perhaps, I don’t even want to be a millionaire. What do I want to be then?

I remember back in my university, I was queuing for a payphone in the library (yes, if you turn 33 years old today, you’d remember the day). There was a much older person queuing in front of me, with a simple coat and an old, ugly leather bag. I thought he looked like a postman. But when he picked up the phone and started to talk, I was surprised. He spoke with a very fluent american english, starting with, “Hello, this is Professor Joko. May I speak to…”. My God. When I told this story to my dad, he wisely said, “Son, that man needs no Rolex watch or Louis Vuitton bag to make other people respect him. People respect him for what he is”. Wow. Cool. That, I want to be.

So I guess I’d have to tell my parents, that I am not going to be a millionaire. Maybe not even a rich director of a company. Or at least, I am not going to invest so much time, effort, energy, thoughts, talents, brainpower, attitude, earnest work, willpower, and prayers, to become one. But I will invest all of those to become noble. To be the first indonesian to win a noble prize, either peace or literature (hell, maybe chemistry!). To be remembered as a person, blessed with talents, having a one-track-mind to achieve a single goal, using all of his effort, to be… well… remembered. To leave a mark for the society. To stand for Indonesia. If I’d end up as a millionaire, that’s fine of course. But I won’t spend so much time for money. I want to spend more time for a cause.

That’s that. Happy 33th birthday, Harry Hardianto Nazarudin. May your dreams, come true.

And, yes. Getting married. I know. It’s already late. You’re starting to sound like my parents…..

Tomang, February 12, 2010

Sunday, February 14, 2010

Selamat Tahun Baru Imlek Untuk Yang Merayakan!

Sudah dua bulan berturut-turut Republik Rakyat Cina, termasuk kota Kunshan tempat saya tinggal sekarang, dihajar oleh hawa dingin yang tak terperi. Apalagi dalam masa yang disebut ‘san ciu’, atau 3 x 9, 27 hari sesudah Winder Solstice yang tahun lalu jatuh pada tanggal 22 Desember. Tiba-tiba angin dingin seperti AC busway, bertiup kencang berhari-hari, berbulan-bulan. Suhu langsung jatuh dibawah nol, bahkan mencapai –5 celcius di Kunshan.

Rumah-rumah di Shanghai kebanyakan tidak memiliki radiator penghangat seperti di Eropa. Ini merupakan sisa aturan jaman dulu, karena Chairman Mao mengatakan bahwa radiator (atau boiler) hanya untuk wilayah utara Sungai Kuning. Sementara wilayah Selatan Sungai Kuning dianggap ‘cukup hangat’ sehingga pemerintah tidak menyediakan sarana penghangat, boiler, atau radiator. Memang, tidak seperti Beijing atau Qingdao, suhu di Shanghai tidak pernah lebih dari –10 celcius. Tapi, Shanghai letaknya sangat dekat dengan Sungai Kuning, sehingga termasuk apes gara-gara peraturan ini: dingin iya, tapi belum cukup dingin untuk dibuatkan infrastruktur seperti boilet! 

Akibatnya, musim dingin menjadi sangat menyiksa. Jendela-jendela bocor, tidak dilengkapi penyekat untuk negara empat musim seperti Eropa. Satu-satunya penghangat adalah AC yang meniupkan angin panas, tetapi udara menjadi pengap dan bau. Dan, untuk masyarakat kebanyakan, satu-satunya sumber panas dalam rumahnya adalah kompor! Namun demikian, dengan gigi gemeretak menahan dingin, masyarakat tetap berkegiatan seperti biasa. Naik sepeda dan motor, dalam suhu –5 celcius, angin kencang pula, demi mencari sesuap nasi. Benar-benar ulet orang-orang ini, pikir saya. 

Sampai Senin kemarin, 8 Februari 2010, mendadak seluruh Kunshan diliputi kabut supertebal. Saya bahkan tidak bisa melihat gedung kantor saya dari pagar! Ada apa gerangan, pikir saya. Esoknya, cuaca cerah, dan – bukan sulap bukan sihir – suhu langsung naik dari –5 menjadi +12 celcius! Sejak itu, setiap hari suhu mulai menanjak, karena angin hangat tiba-tiba bertiup kencang setiap hari. Guangzhou sudah +22 celcius,  Kunshan +15, saya sudah bisa melepas sweater waktu tidur dan menyetir dengan jendela terbuka. Selamat datang musim semi! 

Masyarakat pun riuh rendah menyambut tahun baru. Disini, tidak ada kue keranjang, yee shang, atau semua ornamen Imlek yang kita kenal. Yang ada adalah camilan, seperti berbagai macam kacang (pistachio, almond, walnut), dan kue-kue kering, yang biasanya sulit didapat dan cukup mahal, kali ini nampak berlimpah ruah waktu saya masih ke hipermarket Auchan. Chaos dimana-mana: orang berebut kacang, berebut makanan diskon, maklum di Cina segalanya serba besar dan banyak karena jumlah penduduknya yang besar. Banyak petasan dijual, dengan tulisan-tulisan berwarna emas/merah bertulisnya ‘New Year’ dan bergambarkan harimau. Orang-orang sibuk pulang kampung, naik dari jendela kereta api, berebut naik pesawat. Persis suasana libur Lebaran di negri kita! 

Perayaan Imlek memang sudah berubah, didera oleh sejarah dan politik. Di Cina daratan sendiri, ada Revolusi Kebudayaan tahun 1960-an, yang memakan korban lebih dari 30 juta jiwa. Revolusi ini secara sistematik menghancurkan sisa-sisa budaya feodal Cina dan menggantikannya dengan budaya ‘baru’, komunisme. Semua kelenteng, buku, bahkan furniture, dihancurkan, sehingga generasi seumur saya di Cina daratan sudah tidak mengenal lagi apa itu hio, meja persembahan, dan kelenteng. Apa yang dulu ada di Cina daratan, kini masih bisa dijumpai di Taiwan dan Hong Kong, yang relatif tidak terlalu kena dampak revolusi kebudayaan. 

Di Indonesia sendiri, kebalikannya: justru pergulatan politik tahun 1960-an mengakibatkan pemerintahan Orde Baru mengeraskan kepalannya kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Karakter Cina dilarang, perayaan Imlek selalu didahului oleh surat edaran yang ‘menghimbau’ dan mengajurkan ‘pembauran’. Yang bisa dilakukan, hanya tutup – menutup usaha kami, selama satu hari. Tiba-tiba, di tengah usaha pemerintah waktu itu untuk ‘meniadakan’ kaum kami, mendadak kaum kami ‘tidak ada’ beneran selama satu hari, dan masyarakat begitu kehilangan. Kue-kue favorit hilang dari pasar, toko-toko langganan tutup, bengkel langganan tutup, salon tercinta tutup, bahkan simbok penjaja kue jajan pasar pun ikut libur, karena pabrik kuenya tutup! 

Kini, jamannya sudah berbeda. Terima kasih pada demokrasi, kini Imlek bahkan merupakan hari libur nasional, yang bisa saya banggakan di tempat saya kerja, sebagai simbol kebhinekaan Indonesia. Kami bersyukur, bahwa perayaan Imlek boleh dilakukan dengan bebas. Kue keranjang sudah berevolusi, menjadi makanan Indonesia dengan berbagai bentuk dan variasi. Ikan gurame goreng asam manis, kue lapis legit, dan kue keranjang dengan parutan kelapa, misalnya, menjadi simbol imlek asli Indonesia. Demikian warga Tionghoa lainnya di Malaysia, Singapura, Taiwan, bahkan Toronto dan San Francisco, menemukan caranya masing-masing. 

Kini, orang Tionghoa sudah menjadi diaspora. Yang di Indonesia menjadi orang Indonesia, turut berjuang dan menemukan identitasnya yang baru. Demikian pula di Singapura, juga di Malaysia dan negara-negara lainnya. Bahkan Cina Daratan, yang dulu dijadikan momok sebagai ‘musuh’ karena paham komunisnya, kini menjadi lokomotif ekonomi dunia. Jadi, dinding-dinding ideologi yang dulu dibangun, kini runtuh. Dan, masyarakat Tionghoa perantauan sudah menjadi 100% warga Indonesia, Malaysia, Singapura, dan bahkan Taiwan. Namun, setahun sekali, ijinkanlah kami merayakan Imlek. Bukan untuk menunjukkan bahwa kami berbeda, melainkan sekedar untuk kami mengingat asal-usul kami, mengingat sejarah perjalanan kami. Dan, mengingat, betapa beruntungnya kami menjadi warga Indonesia, sekaligus menyadarkan kami, bahwa kami masih punya satu tugas, yaitu untuk menunjukkan bakti bagi negara dan bangsa Indonesia. 

Selamat merayakan Imlek untuk para JS-ers yang merayakan! Xin nien kuai le, gong xi!

Cheers

Harnaz

Sunday, January 17, 2010

KH Abdurrahman Wahid – Berani Tidak Keren

“Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”
Roma 5:7-8

“Janganlah kamu mencari dan mengikuti kebenaran karena tokohnya, tetapi carilah kebenaran itu sendiri niscaya kamu akan tahu siapa tokohnya”
Ali bin Abi Tholib

Bangsa Indonesia baru saja kehilangan salah seorang putra terbaiknya. KH Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur, meninggal dunia pada tanggal 30 Desember 2009. Biasanya, Gus Dur dikenal di media dengan sebutan ‘bagus, tapi’. Bagus, tapi selalu ada ‘tapi’-nya. Misalnya, pluralis, tapi eksentrik. Jadi presiden, tapi kemudian dijatuhkan oleh MPR. Dikagumi, tapi juga banyak mengundang kritik. Bahkan dalam tulisan-tulisan obituari mengenai dirinya di surat kabar seperti Kompas sekalipun, kekaguman atas Gus Dur selalu diimbangi dengan ke-‘tapi’-an yang tak kalah dominan. Gus Dur memang orang yang dikagumi, tetapi – dengan meminjam istilah beliau yang ‘slengean’ – kurang keren.

Mengapa Gus Dur kurang terlihat keren? Bukan karena beliau posturnya tidak tinggi besar, atau senyumnya kurang menawan. Justru itulah sifat Gus Dur yang paling membuatnya menjadi manusia luar biasa: keberaniannya untuk tidak keren. Keberaniannya untuk nyeleneh, untuk menentang pendapat banyak orang, dan untuk bergerak ke kiri ketika orang sekampung lari ke kanan. Dengan bertindak aneh begitu, seseorang tersebut pasti disebut kurang keren, tidak ikut mode, mau beda sendiri. Tapi, disitulah kualitas agung seorang Gus Dur – perimbangan antara intelektualitas yang jauh melebihi kalangannya dan kekeraskepalaan dan sifat saakelijk a la Jawa Timuran yang sangat kentara.

Coba saja bayangkan: di jaman edan ini, semua orang cenderung ingin terlihat keren. Contohnya adalah pandangan mengenai agama: ngaku saja, untuk menjadi radikal itu jauh lebih keren daripada menjadi moderat, bukan? Apabila berbicara mengenai penyerangan Amerika ke Irak, bukankah lebih keren dan terlihat gagah, jika seseorang berteriak lantang soal kebencian terhadap agama Islam oleh Amerika yang dikuasai Yahudi, daripada sebuah tindakan meredam kekuatan negara berbahaya yang sudah menyerang negara Islam tetangganya secara sepihak? Kalau bicara mengenai golongan Tionghoa, bukankah jauh lebih terlihat perlente berbicara tentang betapa rakusnya orang-orang Tionghoa yang menguasai ekonomi, daripada berbicara tentang betapa orang Tionghoa memperoleh diskriminasi pada jaman Orba sekalipun sudah mengharumkan nama bangsa lewat prestasi di bulutangkis? Ya – akui saja – menjadi radikal, pasti lebih keren!

Dalam kalangan Kristen, radikalisme juga terlihat lebih keren bukan? Ketika bicara mengenai semangat iman, bukankah lebih terlihat rohani jika kita bicara mengenai penginjilan, yang berarti membawa jiwa-jiwa baru alias berusaha mengkristenkan orang yang sudah beragama? Padahal, jangankan menerima jiwa baru, di negara ini orang yang sudah Kristen saja masih banyak yang tidak terurus. Pernahkah Anda melihat kondisi gereja-gereja di Sumba atau di Papua? Kondisi gereja-gereja di pedalaman itu – bahkan nampak juga di lereng Merapi, tidak perlu jauh-jauh ke luar pulau – sangat menyedihkan, dan masyarakatnya bahkan masih kekurangan gizi. Justru merekalah jiwa-jiwa yang harus kita selamatkan – bukanlah Tuhan Yesus berkata, dimanakah kalian pada saat Aku lapar? Lalu, apakah bukan tanggung jawab orang Kristen juga, kalau Indonesia termasuk salah satu negara terkorup di dunia? Sadarkah Anda, bahwa untuk tidak korupsi saja, iman kita masih terlalu kecil?

Nah, hal-hal begini – yang tentu saja tidak terlihat keren – justru adalah hal-hal hakiki yang benar. Disinilah kekuatan iman seorang Gus Dur – beliau mampu, cukup tangguh, dan sangat berani untuk tidak keren dan tidak populer. Beliau tidak segan membela hak-hak kaum minoritas. Ketika radikalisme menjadi keren, beliau justru teguh mempertahankan pluralisme dan sikap moderat. Moderat yang bukan berarti permisif, tapi inklusif.

Kalau diperhatikan, bukankah itu juga yang menjadi sifat Tuhan Yesus dalam hidupNya? Iapun sangat dibenci oleh orang Farisi dan Ahli Taurat – tokoh-tokoh agama pada masaNya – karena sikapnya yang tidak keren, bahkan cenderung kurang ajar. Mengapa Ia bergaul dengan pemungut cukai? Mengapa Ia mau berbicara dengan seorang perempuan sundal? Mengapa Ia berbicara soal pengampunan dosa yang gratis, tidak melalui korban sembelihan? Mengapa pula Ia berani memetik gandum pada hari Sabat? Ya – Tuhan Yesus juga sangat berani untuk tidak tampil keren. Ia berani berkata bahwa yang miskin itu lebih berbahagia dari yang kaya, yang menyumbang dua perak lebih berarti daripada yang menyumbang emas permata. Ia berani mengobrak-abrik meja dagangan di Bait Suci dan Ia tak segan menyindir para pemimpin agama yang korup. Alhasil, Tuhan Yesus menjadi tokoh yang dibenci oleh para pemimpin agama, tetapi dicintai rakyat. Begitu pula Gus Dur, yang seringkali membuat rikuh para petinggi bangsa, namun bisa membuat seorang petani miskin merasa nyaman duduk selonjoran di halaman Istana Negara.

Jangan marah dulu, saya tidak menyamakan Gus Dur dengan Tuhan Yesus. Saya hanya mengajak Anda untuk merenung, betapa sulitnya meneladani sikap Tuhan Yesus. Dan salah satu contoh manusia yang berhasil meneladani sikap Tuhan Yesus dalam membela yang lemah, selain sederet orang seperti Ibu Teresa dan Mahatma Gandhi, adalah seorang Indonesia kelahiran Jombang, Jawa Timur, yang bernama KH Abdurrahman Wahid. Sikapnya yang berani tidak keren, tidak takut terlihat beda sendiri, dan kegigihannya membela kebenaran, patut menjadi teladan kita semua. Dalam tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, dituliskan bahwa untuk orang yang baik mungkin ada yang rela mati. Tetapi, untuk orang yang benar, sangat sedikit orang yang rela mati – apalagi untuk orang yang berdosa. Tuhan Yesus rela mati untuk kita yang berdosa. Gus Dur rela pontang-panting kesana-kemari, kadang-kadang mengabaikan kesehatannya sendiri, untuk membela yang benar, meskipun yang benar itu lemah atau tidak baik.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin menganjurkan agar kita mengenang Gus Dur bukan sebagai tokoh yang ‘bagus, tapi’, melainkan sebagai tokoh yang ‘bagus, walaupun’. Ia bisa menjadi presiden, walaupun tidak punya gelar doktor. Ia tetap menjadi tokoh yang disegani, walaupun sudah tidak jadi presiden lagi. Ia bisa menjadi seorang kiai yang taat, walaupun tak segan membantu dan membela kaum minoritas. Sayangnya, ia sudah meninggalkan kita, walaupun masih banyak masalah yang menghadang bangsa ini di masa depan. Harapan kita hanya tertuju pada tokoh-tokoh muda yang kini bermunculan. Mudah-mudahan, akan ada seorang pemimpin sekaliber Gus Dur, yang akan muncul ke panggung politik bangsa ini. Mudah-mudahan, Tuhan memberikan kepada kita pengganti Gus Dur, yang sama-sama berani tidak keren. “Ya tunggu aja! Gantinya kan pasti ada!” kata Gus Dur dalam bayangan saya. “Gitu aja kok repot!”

Selamat jalan, Gus Dur!

-Harry Nazarudin-

Catatan: tulisan ini adalah pendapat pribadi murni tanpa muatan politik maupun agama. Jika Anda merasa keberatan, silakan mengirimkan email ke harnaz@gmail.com, supaya kita bisa berdiskusi. Terima kasih!

Friday, November 20, 2009

[Resensi buku] Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando

” Bila jarum jam bisa diputar kembali, saya tetap memilih profesi sebagai tentara. Dalam pengabdian untuk bangsa dan negara, di dalam organisasi militer tidak ada pengelompokan. Kalau sampai terjadi pengelompokan-pegelompokan itu bukan militer profesional”
Epilog, hal. 475.

Kalau di Indonesia ada Pulitzer Prize, buku biografi yang satu ini pasti bisa menang. Sayangnya, perhargaan sastra di Indonesia masih sangat jarang, sehingga buku ini hanya terkenal di masyarakat karena pengungkapan Letjen TNI (Hor) Sintong Pandjaitan, sebagai penasehat keamanan dan ’orang dalam’ di pemerintahan presiden BJ Habibie, tentang peristiwa kerusuhan Mei 1998. Padahal, dari semua biografi yang pernah saya baca, buku ini adalah salah satu yang terbaik dari segi penulisan maupun jurnalistik. Dibandingkan dengan buku ‘Andrew Jackson, The American Lion’, karya Jon Menacham yang memenangkan Pulizer Prize tahun ini, menurut saya hanya beti alias beda tipis saja!

Pencapaian ini tak lain adalah karena kepiawaian Hendro Subroto, sang penulis buku ini. Hendro ternyata bukan orang sembarangan: beliau adalah seorang wartawan perang yang sudah berkecimpung di dunia jurnalistik sejak tahun 1964. Beliau adalah jenis wartawan yang sangat langka di Indonesia - wartawan yang bukan berhadapan dengan pentungan satpam atau dorongan polisi, melainkan dengan desingan peluru sungguhan dan todongan senjata betulan. Beliau mengenal Sintong dengan baik karena sering diterjunkan ke lapangan bersama Sintong, seperti dalam Penjelajahan Lembah X di Papua.

Ada dua kekuatan Hendro dalam penulisan buku ini: pertama dalam melukiskan situasi secara detail dan akurat, sehingga kita seolah-olah berada bersama Sintong dan pasukannya ketika mengejar Kahar Muzakkar, ketika tersesat di Lembah Baliem, atau ketika mengamati pembebasan pesawat Garuda ‘Woyla’ yang dibajak di Bangkok. Karena memang pernah terjun langsung ke lapangan, Hendro sangat piawai dalam membeberkan detail teknis, memberikan gambaran mengenai suasana, serta menjelaskan runut peristiwa, dalam suatu situasi dimana hitungan detik bisa terasa seperti berjam-jam.

Contohnya, ketika Hendro menuliskan tentang kisah penangkapan pemberontak DI/TII Kahar Muzakkar. Kita hanya mengenal Kahar dari pelajaran sekolah dulu - bahwa beliau adalah pemberontak yang kemudian tertangkap. Siapa sangka, bahwa kisah penangkapannya di Sulawesi Tenggara begitu dramatis. Setelah dikejar berminggu-minggu, dengan kekuatan penuh Angkatan Darat, Brigjen TNI M. Jusuf pada waktu itu menjanjikan pada pasukan yang bisa menangkap Kahar Muzakkar akan diangkut dengan pesawat AURI untuk pulang ke kesatuannya. Sebuah janji yang sederhana, namun sangat berarti bagi prajurit yang biasanya harus menempuh perjalanan berjam-jam lewat laut dan darat, sebelum sampai ke daerah penugasan di Sulawesi. Kahar Muzakkar begitu licin, sampai-sampai pada akhirnya beliau melarikan diri ke hutan-hutan di Sulawesi Tenggara. Ketika salah satu satuan prajurit pengintai menyusuri Sungai Lasolo, ia mendengar sayup-sayup lagu ’Terkenang Masa Nan Lalu’ dari Radio Malaysia. Tahulah ia, bahwa di dekat situ pasti ada Kahar Muzakkar, karena hanya Kahar yang boleh memiliki kemewahan sebuah radio transistor dalam tendanya. Akhirnya, diiringi lagu itupun, Kahar meregang nyawa, tertembak ketika sedang mengambil granat untuk menyerang balik. Walaupun bukan kesatuan Sintong yang menangkap Kahar, namun Hendro menuliskan cerita ini sebagai sebuah kelengkapan cerita. Kisah-kisah heroik yang sesungguhnya seperti ini sebenarnya harus lebih banyak lagi di-ekspos ke masyarakat, daripada mencari pahlawan-pahlawan semu dari layar sinetron.

Kekuatan Hendro yang kedua adalah pengetahuannya di bidang teknik kemiliteran. Dengan fasih, Hendro bisa menjelaskan spefisikasi teknis, kekurangan dan kelebihan sebuah kehikopter, tank, atau senapan yang digunakan pada saat itu. Dengan demikian, Hendro bisa memberikan penjelasan yang rinci dan detail mengenai apa yang terjadi dan mengapa. Contohnya, ketika Sintong bersikukuh untuk mencoba senapan Hekler & Koch MP5 SD-2 yang baru datang dari Jerman, sebelum memimpin operasi pembebasan pesawat Garuda ‘Woyla’ yang dibajak di Bangkok.

Saat itu, yang dihadapinya adalah Letjen TNI Benny Moerdani, yang terkenal kegarangannya dalam sejarah militer Indonesia. Namun, dalam satu situasi itu, Sintong menunjukkan keteguhan seorang prajurit - juga seorang Batak - dalam mempertahankan pendapatnya. Ternyata ia benar - senjata yang baru itu ternyata macet, dan Hendro menjelaskan bahwa kemungkinan karena udara di Indonesia begitu lembab, peluru dari Jerman yang sudah lama berada di senjata tersebut berkarat sehingga macet. Setelah mendapatkan mengganti peluru, barulah mereka berangkat, dan kemudian berhasil membebaskan pesawat Garuda dengan operasi pembebasan yang dramatis, di bawah tatapan kagum mata dunia internasional. Apa yang terjadi bila ternyata senapan yang digunakan dalam operasi sergap tersebut macet? Tidak terbayangkan!

Catatan yang juga menarik adalah mengenai mekanisme dalam ABRI, yang juga dikenal baik oleh Hendro Subroto. Aturan baku mengenai rantai komando, struktur intelijen ABRI, serta intrik internal diantara perwira, terjalin menjadi kisah yang asyik dibaca. Pada akhirnya, intrik ABRI tidak ada bedanya dengan pergulatan karir dalam sebuah perusahaan swasta, dan seorang Jenderal pada hakekatnya adalah seorang manajer. Kepatuhan mutlak prajurit kepada atasannya, yang sering dipandang khalayak umum sebagai suatu kelemahan dibanding demokrasi terbuka, ternyata adalah suatu kekuatan penting ABRI, dan alasan mengapa organisasi ABRI bisa bergerak jauh lebih cepat, efektif, dan gesit, dibanding sebuah institusi demokratis. Inilah yang dipraktekkan oleh Cina, sehingga ekonomi mereka maju begitu cepat dan pesatnya.

Mengenai gerakan reformasi 1998, Sintong sebagai seorang militer memiliki sebuah pandangan yang sangat bijak. Selama ini, saya selalu berdebat dengan rekan-rekan orang asing ketika membandingkan peristiwa Tiananmen di Cina dan Gerakan Reformasi 1998 di Indonesia. Gerakan reformasi di Indonesia seringkali dicap sebagai gerakan anarkis, yang menjerumuskan Indonesia ke dalam jurang kemunduran dan kekacauan. Sementara tindakan represif militer Cina di Tiananmen dianggap sebagai sebuah ‘tindakan yang tepat’, walaupun memakan korban jiwa. Saya sendiri selalu beranggapan bahwa reformasi Indonesia - meski berdampak negatif terhadap ekonomi - namun adalah hal yang benar, karena demokrasi dijunjung tinggi di Indonesia, sementara di Cina - walaupun ekonomi maju - tidak mementingkan demokrasi.

Namun, Sintong berpendapat lain, bahwa walaupun militer Cina melibas habis gerakan Tiananmen, namun semangat perjuangan Tiananmen justru diadopsi dan diteruskan oleh mereka. Semangat bekerja bagi negara, anti korupsi, dan memakmurkan rakyat, walaupun tidak secara demokratis, diteruskan oleh pemerintah dan militer Cina. Bisa saja pemerintah dan militer Cina berkembang menjadi diktator kejam, tapi tidak. Di Indonesia, justru para reformis yang meninggikan diri sebagai demokratis, yang kemudian menghancurkan ideologinya sendiri dengan berbagai kepentingan pribadi, KKN, dan korupsi. Bahkan sekarangpun, kita masih bergelut dengan musuh yang sama - walaupun dalam era yang berbeda. Dan, sang musuh nampaknya justru menjadi lebih kuat dari sebelumnya!

Buat saya, yang paling menarik dari buku ini adalah kisah kepahlawanan Sintong. Sudah lama, generasi saya hanya mendengar caci-maki dan sindiran sinis mengenai ke-Indonesiaan dan menjadi Indonesia. Bahkan, seperti sudah disebutkan diatas, masyarakat kini begitu rindu akan nilai-nilai kepahlawanan, sampai-sampai mencari pahlawan semu di layar televisi dan sinetron. Padahal, dalam sejarah kita, banyak kisah kepahlawanan seperti diceritakan dalam buku ini. Bagaimana pasukan khusus Indonesia, yang masih dipandang sebelah mata di dunia, bisa membebaskan para sandera dalam pembajakan pesawat Garuda ‘Woyla’ di Bangkok. Bagaimana seluruh insan negara Indonesia bahu membahu memenangkan Pepera Irian Barat, sehingga Papua bisa masuk ke pangkuan Ibu Pertiwi. Bagaimana pemberontakan demi pemberontakan bisa ditumpas, dengan semangat nasionalisme yang membara.

Semua itu dapat dicapai karena insan-insan yang berkecimpung di dalamnya, bekerja dengan sangat kompak, sungguh-sungguh, tanpa ambisi pribadi, demi tegaknya NKRI. Alangkah ironisnya jika kita bandingkan antara Pemenangan Pepera Irian Barat dengan lepasnya Timor Timur dari Indonesia - betapa taktik yang sama bisa memberikan hasil yang begitu berbeda, karena hilangnya kemurnian niat dan kesungguhan hati membela negara dalam pelaksanaannya. Kita butuh kisah-kisah seperti ini - agar kita bisa merasa percaya diri lagi sebagai orang Indonesia. Agar kita sadar, bahwa Indonesia pernah bisa, dan akan bisa lagi, asalkan ada hasrat murni dari dalam hati demi tegaknya bangsa dan negara Indonesia!

Harry Nazarudin

Saturday, November 7, 2009

Indonesia Harus Berani Menjadi Sempurna

“I come from the country where it is OK to be mediocre. Infact, pursuing perfection is seen as something unusual”
Agnes Monica, dalam wawancara dengan Channel News Asia mengenai usahanya mencapai kesempurnaan dalam industri musik.

Pertama-tama, saya terkejut melihat Agnes Monica di televisi asing. Selain Agnes, mungkin hanya Anggun, orang Indonesia yang namanya bisa berkibar di dunia musik internasional. Namun, yang membuat saya lebih terkesan adalah komentar Agnes tentang Indonesia, negara asalnya. Ia menjelaskan bahwa ia ingin mencapai kesempurnaan dalam industri musik, baik dari kualitas suara, kualitas video klip, maupun manajemennya. Namun, usahanya ini harus dilakukan dengan ekstra keras, karena menjadi sempurna bukanlah prioritas bagi kebanyakan orang Indonesia. Dan, ketika saya renungkan, Agnes benar.

Saya tersenyum sendiri mengingat komentar rekan saya ketika menyaksikan sebuah acara di Discovery Channel tentang sulitnya melakukan pengeboran minyak di lepas pantai sebuah negara Skandinavia. Betapa rig-nya harus dibuat di pelabuhan yang jaraknya jauh, lalu ditarik dengan kapal laut berkelok-kelok melewati lekukan fjord, melawan badai dan ombak, sampai mencapai tujuan. “Wah, kalau di Indonesia, kalau ditanya apakah minyak di pantai bisa diambil, jawabnya pasti: susah Pak! Cari tempat lain saja!” begitu kata teman saya sambil terkekeh. Begitu pula dengan proyek-proyek raksasa seperti kereta bawah tanah, membuat pesawat A-380, dan lain-lain. Semuanya dianggap sebagai proyek ‘gila’, yang tidak mungkin dilakukan di Indonesia. Padahal, justru Indonesia-lah yang menjadi pelopor proyek ‘gila’ tersebut.

Waktu negara-negara Asia masih baru saja lepas dari belenggu penjajahan, sebuah eforia melanda kawasan ini. Negara-negara seperti India, Burma, Malaysia, Singapura, Taiwan, bahkan Cina, yang sudah merasakan pahit getir penjajahan, kini menjadi merdeka. Bangsa yang dididik kerdil sejak lahir - selalu diajarkan bahwa mereka - kita - berada sederajat lebih rendah dari sang penjajah, sederajat lebih bodoh, dan sederajat lebih kotor, mendadak merdeka. Dan Soekarno, Bapak Bangsa Indonesia, berada di barisan paling depan. Beliau menyadari betul apa yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa ini: kesetaraan. Bangsa-bangsa ini harus mendobrak batasan-batasan feodal yang diturunkan penjajah, dan membentuk sebuah identitas baru.

Maka, mulailah Indonesia menjadi pelopor. Dengan usaha sendiri - walaupun terseok-seok - tentara Indonesia berhasil merebut Irian Barat dari Belanda. Kemudian dibangunlah proyek-proyek mercusuar seperti Monas, Jembatan Semanggi, dan Air Mancur Bundaran HI. Mengapa disebut mercusuar? Karena Soekarno melihat Indonesia sebagai mercusuar - sebuah menara tinggi yang memancarkan cahaya, memandu kapal-kapal lainnya agar tidak tersesat dalam kegelapan! Bukan saja bangunan, tetapi juga program-program serupa, seperti Konferensi Asia Afrika, Ganefo, dan lain-lain!

Kalau kita berbicara dengan orang-orang yang hidup di era 1950-an, mereka akan masih ingat, bagaimana imaji dunia internasional terhadap Indonesia pada waktu itu. “Indonesia” kata seorang rekan asal Taiwan, “Dulu jadi pusat perhatian. Jakarta dulu jadi simbol kemajuan Asia!” katanya bersemangat. Ya - kita pernah bisa seperti itu. Monas dan Semanggi dibangun jauh sebelum Shanghai, Seoul, atau Bangkok mulai membangun proyek-proyek seperti itu. Jadi, kita bisa! Bukan hanya Monas, tapi mahakarya bangsa kita seperti Borobudur dan Prambanan - yang tidak kalah dengan Angkot Wat atau Great Wall, menjadi saksi bahwa sebenarnya Indonesia bisa.

Lalu, apa masalahnya? Mengapa kita sekarang kelihatannya sulit untuk maju? Bahkan untuk mempertahankan satu-satunya mahkota kita, kejayaan di olahraga bulutangkis - itu saja begitu sulit. Ya - karena bangsa ini lupa, bagaimana menjadi sempurna!

Dalam masyarakat kita sekarang ini, ada rasa pesimisme yang begitu besarnya. Rasa pesimisme ini begitu besarnya, sampai-sampai menjadi penghalang utama kemajuan bangsa kita. Bahkan hutang IMF yang dulu rasanya menggunung itu, kini telah lunas. Tapi, rasa pesimisme sebagai akibat dari eforia reformasi, masih belum sirna juga. Rasa inilah yang membuat kita menjadi bangsa gampangan - maunya yang gampang-gampang saja. Susah sedikit saja, maka proyek-proyek ini menjadi terbengkalai karena dicap sebagai ‚terlalu susah’. Lihat saja proyek jalan tol - dimana-mana nampak palang-palang beton yang berkarat tak terurus, sebagai simbol kemandekan kita. Padahal, di negara-negara seperti Cina, jalanan dibuat dalam hitungan hari saja. Di Indonesia, sudah bertahun-tahun, rugi pula!

Kita sudah lupa bagaimana caranya menjadi sempurna. Toleransi kita begitu besarnya, sampai-sampai orang yang masih berjuang menjadi sempurna sering dianggap ‘gila’. Bagaimana masyarakat umum menilai Ugo Untoro, Garin Nugroho, atau Ayu Utami? Dibandingkan dengan sinetron asal jadi, atau bintang film asal cantik? Bahkan ketika sebuah bank ingin mengedepankan bulutangkis, bukan atlit sungguhan, melainkan bintang sinetron yang jadi simbolnya! Nah, itulah sebabnya. Kita menjadi cepat puas, dan lupa mengejar kesempurnaan. Padahal, strive for perfection - atau kesungguhan mengejar kesempurnaan, adalah kunci kesuksesan sebuah bangsa - bahkan sekecil Singapura sekalipun.

Usaha ini tidak mudah, karena masyarakat sudah terlanjur diserbu oleh semua yang serba instan. Namun, masih belum terlambat! Media harus mengedepankan kisah-kisah orang yang mengejar kesempurnaan sebagai teladan - dari peraih Kalpataru, sampai juara Olimpiade Matematika. Mereka harus menghiasi halaman depan, bukan di paling belakang atau terselip di pojok kecil. Film, mengundang peranan besar. Buktinya, film Laskar Pelangi - yang mengisahkan tentang mengejar kesempurnaan - bisa laku keras! Namun, masih terlalu sedikit genre film seperti itu. Bangsa Amerika adalah contoh bagaimana industri film bisa memupuk nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa Amerika. Perlu kerja sama antara pemerintah dan masyarakat seni, namun hal ini bisa dicapai. Kalau Anda berpikir usaha ini mustahil, mungkin Anda juga dirasuki pikiran ‚asal gampang’. Mari kita raih kesempurnaan dalam mengajar masyarakat tentang arti mengejar kesempurnaan!