Friday, October 3, 2014

Hati-hati Amerikanisasi Demokrasi kita!

Apa itu Amerikanisasi? Bukan, saya tidak berbicara mengenai antek-antek. Saya berbicara soal demokrasi Amerika yang kini sedang rusak, dan resiko rusak ini yang menjalar ke Indonesia!

Kok bisa demokrasi Amerika Serikat rusak? Ya – seperti ditulis oleh William Liddle, seorang indonesianis asal Ohio, dan juga banyak pengamat politik lainnya di AS: demokrasi di negara itu sedang ‘sakit’. Sejak jaman George W. Bush, sampai kemudian Barrack Obama, terjadi trend yang disebut ‘partisan’. Desain demokrasi sebenarnya adalah kekuasaan mayoritas dalam pemilihan umum. Artinya, yang mayoritas berhak memilih pemimpin sendiri sehingga tidak terjadi kekuasaan despot, abadi, atau tirani.

Tetapi, apa yang terjadi kalau tidak ada mayoritas? Kalau setiap pemilu suaranya 40:40 dengan 20 persen saja yang belum memutuskan? Yang 20% ini namanya swing vote. Dan dalam demokrasi yang ‘sakit’, yang menentukan siapa pemimpin masa depan justru 20% ini, dan bukan mayoritasnya!

Mengapa ini bisa terjadi? Memang, Amerika Serikat menganut sistem dua partai saja, Demokrat dan Republik. Tapi, masalah utama yang sangat cepat ‘membusukkan’ demokrasi, adalah semangat partisan. Maksudnya apa? Partisan artinya pemilih – rakyat – memilih partai karena fanatisme semata, bukan karena kinerja, program, atau prestasi. Jadi, salah benar, bejat suci, partai saya adalah A. Dan Partai A selalu terbaik, selalu didukung, apapun yang terjadi. Inilah yang disebut partisan. Semangat demokrasi adalah memilih yang terbaik sehingga kalau fanatik begini, sistemnya tidak akan berjalan.

Terjadilah kemudian apa yang disebut sebagai ‘tirani demokrasi’. Saya pernah mengobrol dengan rekan dari Afrika. Dan saya bertanya, di Afrika banyak negara demokratis, yang mengadakan pemilu rutin, namun tetap dihantui kemiskinan, kekejaman, dan tirani. Mengapa demikian? Dia menjawab, karena sistem demokrasi disana dirusak oleh partisan berdasarkan suku. Artinya, suku membuat partai, dan setiap anggota suku  fanatik memilih partainya. Akibatnya: yang menang pemilu selalu suku mayoritas, betapapun bejat pemimpinnya! Bagaimana jika suku minoritas bosan ditindas? Mereka harus memberontak, membentuk negara baru, dimana mereka mayoritas. Baru bisa berkuasa!

Inilah yang disebut tirani demokrasi, yang bisa terjadi di Indonesia!

Indonesia memang beruntung, tidak memiliki kecenderungan partai sesuku dan sistemnya multipartai. Namun, polarisasi pilpres 2014 yang diwarnai perang media dan urat syaraf politik, yang buntutnya masih kita rasakan sekarang. Jika dulu kita tidak punya oposisi, mengandalkan musyawarah mufakat, kini parlemen kita terkotak dengan jelas dan orang malah bangga dibilang ‘oposisi’ – dan tentu saja beliau akan beroposisi tanpa tedeng aling-aling! Hal seperti ini, belum pernah terjadi di Indonesia, negri musyawarah mufakat. Kondisi ini harus dicegah!

Kita harus ingat, bahwa inti demokrasi adalah memilih pemimpin yang terbaik – tidak berdasarkan suku, agama, fanatisme politik, atau alasan lainnya. Semangat inilah yang membuat negara-negara demokratis menjadi yang termaju dan termakmur di dunia. Tetapi iika ini tidak dilakukan, maka demokrasi tidak berjalan – apapun namanya, bahkan di Negeri Paman Sam sekalipun! Kuncinya, rakyat jangan mudah tertipu mesin media partisan (media yang mendukung fanatisme partai). Tetaplah melihat suatu masalah dengan kepala jernih, dan berpendapat untuk kepentingan kita sendiri. Supaya demokrasi yang kita perjuangkan sepenuh hati ini, tidak rusak sebelum kita nikmati!
 
Mari kita tolak partisan. Kita tolak partai-partaian. Kita tetap satu, mengawasi pemimpin kita yang sedang berkuasa. Dan ingat ketika waktunya untuk memilih - pilihlah dengan bijak! Ingat, di luar sana sekarang, ada yang rela mati demi mendapatkan apa yang kita nikmati sekarang. Mari kita nikmati dengan bijak dan pastikan demokrasi membawa Indonesia gemilang!

Jakarta, 4 Oktober 2014

Harnaz

 

 

Saturday, September 27, 2014

Demokrasi dan Intuisi Kita


Kebetulan, tanggal 25 September 2014, saya menonton ulang salah satu film kesukaan saya, berjudul ‘Lincoln’ (2012) yang disutradarai oleh Steven Spielberg. Sepanjang sejarah, sangat sedikit film yang membahas khusus mengenai produk undang-undang, dan ini adalah salah satu yang terbaik. Film ‘Lincoln’ tidak membahas Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke 16, melainkan membahas kelahiran Amandemen ke 13 Konstitusi Amerika Serikat, yang kemudian dikenal sebagai undang-undang yang melarang perbudakan.

Film ini menyajikan drama pengesahan amandemen konstitusi di House of Representative (DPR) yang sangat menarik, mirip dengan yang kita saksikan belakangan ini di DPR kita. Bahkan di tahun 1865, strategi perjuangan menuju pengesahan produk perundangan sudah terjadi: ada dua kubu berseteru, ada pelobby, ada transaksi, ada negosiasi. Disinilah keindahan film ini, yang begitu jujur menampilkan sisi busuk dari sebuah proses politik. Busuk, namun menghasilkan produk yang baik.

Dari proses pengesahan Amandemen ke-13, peranan Presiden Abraham Lincoln sangat dominan. Beliau menerima tantangan berat dalam perjuangannya. Fraksinya kalah suara di parlemen, Perang Saudara yang sedang berkecamuk juga menambah bebannya. Tapi, ia dengan gigih memperjuangkan Amandemen ke-13 – bahkan mempertaruhkan reputasinya sendiri dengan ‘berbohong’ mengenai delegasi dari Negara Konfederasi yang ingin berdamai. Apa yang membuat Lincoln begitu gigih memperjuangkan penghapusan perbudakan?

“Intuisi” kata Lincoln ketika berkali-kali ditanya mengenai hal ini. Intuisi, bahwa sebenarnya esensi demokrasi yang dijunjung tinggi oleh Konstitusi Amerika Serikat bertentangan dengan asas perbudakan. Intuisi, bahwa hak yang sama untuk semua warga negara harusnya berlaku juga bagi warga kulit hitam. Intuisi, bahwa kemerdekaan yang begitu kuat diperjuangkan oleh imigran kulit putih Amerika Serikat, harusnya juga berlaku bagi imigran kulit hitam dan semua bangsa. Lincoln kemudian meminta anggota Senat mendengarkan ‘intuisi’ mereka masing-masing sebelum melakukan voting. Apakah perbudakan itu sejalan dengan asas demokrasi yang begitu mereka junjung tinggi, atau berlawanan?

Dengan intuisi inilah kemudian Amandemen ke-13 disahkan tanggal 31 Januari 1865. Ada pro, ada kontra, kondisi riuh, dan kesamaan hak antar ras baru 200 tahun kemudian bisa benar-benar dihapuskan. Tapi, kubu pro-Amandemen menang.

Jakarta, 25 September 2014. Sayang sekali, kita tidak punya Abraham Lincoln, yang rela berjibaku demi tercapainya sebuah idealisme demokrasi. Kita juga tidak punya Thaddeus Stevens, seorang senator yang gigih memperjuangkan amandemen. Yang kita punya adalah usaha Koalisi Merah Putih untuk menggusur pilkada langsung, tindakan walk-out dari Partai Demokrat yang melancarkan tindakan ini, dan diketoknya palu yang mengecewakan rakyat.

Konon, toh demokrasi bisa melalui mekanisme demokrasi. Toh, negara-negara maju lainnya juga menggunakan sistem representasi. Malahan, pilihan langsung melanggar sila ke-4 Pancasila. Apakah benar begitu?

Mari kita bicara mengenai ‘intuisi’ dalam penafsiran demokrasi. Inilah yang menjadi pegangan Lincoln dan Thaddeus Stevens dalam memperjuangkan Amandemen ke-13. Ini pula yang perlu kita pegang dalam menilai keabsahan pilkada langsung. Secara intuitif, apakah pemilihan kepala daerah secara langsung sejalan dengan demokrasi, atau bertentangan?

Demokrasi dalam bahasa Yunani berarti ‘kekuatan rakyat’. Lawan katanya adalah aristokrasi yang artinya ‘kekuatan elit’. Kekuatan rakyat diterjemahkan sebagai kondisi dimana warga negara memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka (http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi). Maka, secara intuitif, semakin definitif warga negara bisa menentukan pilihan pemimpinnya, semakin ideal pelaksanaan demokrasi di negara tersebut. Bukan berarti demokrasi tidak bisa terwujud tanpa representasi – tetapi demokrasi pemilihan langsung adalah bentuk demokrasi yang lebih murni. Karena melalui representasi , elit DPR dan DPRD sangat bisa kemudian berubah menjadi aristokrasi – kekuasaan golongan elit semata.

Tadinya saya berencana menulis artikel untuk melaporkan gilang gemilang kemenangan pilihan langsung rakyat untuk pilkada, dan menyamakannya dengan Amandemen ke-13 Konstitusi Amerika Serikat. Sayangnya, sejarah berkata lain. Mungkin, intuisi para wakil rakyat di Senayan berbeda dengan intuisi saya, seorang warga negara biasa...

Jakarta, 27 September 2014

Sunday, September 21, 2014

Bernegara di Jalanan Kita


Kunjungan sahabat saya untuk pertama kali ke Indonesia baru-baru ini membuat saya terhenyak. Mereka berasal dari sebuah negara maju di Eropa, dan kami sudah kenal bertahun-tahun. Saya selalu ‘mengiklankan’ betapa indahnya Indonesia kepada mereka, sampai 12 tahun setelah kami pertama kali berkenalan, akhirnya mereka memberanikan diri terbang ke Indonesia.

Yang membuat saya terhenyak bukan reaksi mereka ketika mencicipi petai goreng atau melihat kawah berasap di Bandung. Tetapi, reaksi mereka terhadap kondisi lalu lintas di Indonesia. Betapapun saya menjelaskan supaya mereka jangan kuatir, bahwa saya sudah bisanya berkendara di neraka ini, tidak membuat mereka nyaman. Motor, mobil, pejalan kaki, mendadak melintas, menerobos... neraka! Metromini berhenti semaunya. “Mengapa minibus itu berhenti? Apakah dia tidak peduli pada mobil yang mengantri dibelakangnya?” tanya teman saya. “Mengapa polisi membiarkannya terjadi?” tanyanya lagi. Saya bingung mau menjawab apa.

Ingatkah Anda, kapan terakhir jalanan kita ‘berwibawa’? Ingatkah Anda, kapan kita berkendara dengan nyaman, polisi ditakuti karena jujur dan menegakkan peraturan, dan lalu lintas teratur rapi? Saya ingat di tahun 1980-an, jalanan kita masih relatif berwibawa. Semua pengendara motor wajib menggunakan helm. Sepeda motor berjalan di jalur paling kiri. Menerobos lampu merah adalah pelanggaran besar. Melawan arus apalagi!

Sekarang, bolehkah saya berargumen, bahwa kemajuan suatu negara bisa dinilai dari lalu lintasnya? Siapa yang tertib, seperti Singapura, Malaysia, Austria, berarti negaranya maju. Yang berantakan, seperti India, Bangladesh, Pakistan, berarti belum maju.  Nah, kalau saya boleh bertanya, apakah Indonesia mengalami kemajuan atau kemunduran sejak tahun 1980-an?

Jika Anda berpendapat lalu lintas tidak penting untuk dibenahi, nanti dulu. Di bawah ini ada beberapa poin mengenai lalu lintas kita yang perlu kita cermati:

1.       Lalu lintas menunjukkan budaya. Apakah Indonesia bangsa yang beradab atau biadab? Mohon maaf, jika menilai dari perilaku bangsa kita di jalan raya, yang terakhir lebih tepat, terutama di kota besar. Kalau ingin menunjukkan Indonesia beradab dan berbudaya, marilah mulai dari jalan raya! Niscaya setiap tamu asing menghargai keteraturan kita, bukan geleng-geleng melihat absennya aturan di jalanan kita.

2.       Jalan raya adalah simbol kewibawaan negara. Dimanakah hadirnya negara dalam kehidupan kita? Diluar urusan setahun sekali seperti KTP atau bayar pajak, negara hadir tiap hari dalam perjalanan kita. Diantara mobil saya dan mobil sebelah, ada negara yang mengatur. Dan, kinerja negara pun paling mudah dinilai dari sini. Jika negara absen di jalan raya, mungkin saja negara sudah tidak ada bagi rakyatnya!

3.       Citra polisi perlu diperbaiki di jalan raya. Ya! Jujur saja, dimanakah Anda paling sering melihat seorang berseragam kepolisian? Densus 88? Brimob? Bukan – polisi lalu lintas tentu saja. Ingin memperbaiki citra kepolisian? Mulailah dari polisi lalu lintas! Disinilah kepolisian memiliki jendela dimana setiap rakyat bisa melihat dan menilainya, setiap hari.

4.       Angkutan umum perlu jadi teladan di jalan raya. Ini yang saya tak habis pikir – mengapa di Jakarta semua bus, metromini, dan kopaja ‘kebal hukum’? Mereka bisa membunuh siapa saja, melempar penumpangnya di tengah jalan, dan tidak ada yang menyentuhnya. Di negara maju, angkutan umum justru adalah teladan penegakan hukum. Merekalah simbol kehadiran negara, simbol tegaknya undang-undang. Apakah segitu susahnya menertibkan bus dan konco-konconya yang sebenarnya dijalankan atau diatur oleh BUMD atau negara?

5.       Galakkan iklan layanan masyarakat berlalu lintas. Terlalu sedikit kita mendengar dan membaca, betapa berbahaya bermotor tanpa helm, betapa merusaknya sikap berteduh semaunya ketika hujan, atau betapa kejinya berhenti sembarangan. Daripada iklan pencitraan, mungkin lebih baik uang negara dialirkan membuat iklan layanan masyarakat untuk perbaikan lalu lintas!

Belakangan ini, dalam politik, terjadi sebuah trend yang kurang menyenangkan. Sikap mengalah, yang menjadi keunggulan politik Indonesia selama puluhan tahun, mulai menghilang. Yang ada adalah sikap ingin menang dengan segala cara, sikap tidak mau mengalah, yang penting saya menang.

Apakah sikap ini terasa familier? Jangan-jangan, seorang pejabat yang biasa berkendara dijaga oleh voorijder yang garang memaki kendaraan lain supaya minggir, merasa beliaulah yang berhak jadi penguasa negara ini. Jangan-jangan, jagoan bermotor yang tadi pagi lebih baik ngotot adu jotos daripada mengaku salah (boro-boro minta maaf), nantinya akan ngotot dilantik jadi pejabat walaupun sudah terdakwa korupsi. Jangan-jangan, kernet bus yang biasa melintas semaunya di Slipi, kelak menjadi pengusaha yang menjadikan OB sebagai direktur demi mendapatkan proyek.

Jangan-jangan, pandangan Radhar Panca Dahana di koran Kompas beberapa waktu lalu salah. Jangan-jangan, sebuah revolusi mental bisa terjadi tanpa proses panjang antar-generasi, namun hanya dengan merevolusi cara kita berkendara. Jangan-jangan, jika rakyat diajar santun di jalanan, jika negara bisa berwibawa tanpa korupsi di jalanan, jika rakyat bisa mengaku salah dan minta maaf di jalanan, revolusi mental bisa bergulir lebih cepat. Atau sebaiknya saya mengganti ‘jangan-jangan’ dengan ‘mudah-mudahan’?

Saran saya sederhana: wahai pemerintah, mulailah jadi teladan bagi rakyat di jalan raya. Jalan raya adalah sekolah bernegara. Jika ingin bernegara dengan beradab, beradablah dulu di jalanan!

Salam,

Harnaz

Sunday, January 29, 2012

Obituary: Drg. Daniel Nazarudin, born Thio Tjong Bing. A Good Dentist, A Great Person, The Greatest Dad.


On Monday, January 23rd, 2012, at 20.40, my father, Drg. Daniel Nazarudin, born Thio Tjong Bing, passed away. He was 64.

Thio Tjong Bing was born in Pekalongan, Central Java, on February 3rd, 1947, to Thio Tjin An and Oey Sioe Kim. Thio Tjin An owned a car workshop in Pekalongan, which is why my father always had a passion for all things mechanical. In our family, he is ‘the last handyman’ – while the younger generation prefer to throw away broken stuff and getting new ones, he would dutifully spend much time and money in trying to fix broken equipments. Just weeks before he passed away, he had a project to fix our water pumps, causing a shortage of water supply in our house for a while – then he later told me: “You’re right – in the end I decided to buy a new one!”. But he didn’t give up – eventually he did fix the broken pump and now we have 2 pumps in our house.

Thio Tjong Bing had an older sister, Thio Giok Hiang. Both had a happy childhood, my dad being the adventurous one and his sister being the obedient one. He often spoke of my grandmother’s fondness for kungfu novels and movie theatres, and my grandfather’s excel in Dutch language and music. His happy childhood was cut short as his father, Thio Tjin An, passed away when he was in Junior High School. I remember my grandmother told me that both children came crying to her, because they were afraid that they can’t go to school anymore. “From that moment on, I sold everything I had, one by one, to finance the education of your dad and your aunt” said my grandmother.

Pursuing education brought Thio Tjong Bing from Pekalongan to Semarang, where he spent his Senior High School at Loyola College, and then to Bandung. My father always wanted to be a civil engineer or an architect. But at that time, he did not have a chance to go Bandung’s Institute of Technology, which had a good architecture department (where his sister studied and I got my degree from). Instead, faith brought him to the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, also in Bandung. He doesn’t like dentistry, but that does not stop him from being a perfectionist at work. “I never liked dentistry, so I need more energy to perform my work perfectly” he said once. “Being a dentist is a dilemma: when you’re young, you have a lot of energy, but not enough experience so you have only few patients. When you’re older and more experienced, you’ll have more patients, but not anymore the energy to perform the work – so you just can’t reap the maximum financial benefit out of this profession” he said.

After he retired from hospital duty and focused on his own practice, he seemed to enjoy his work more – not because of the work itself, but because his profession prompted him to meet a huge network of friends. “When I go to your father to fix my teeth, it takes him 15 minutes to do the job and 45 minutes to chat!” commented a friend of mine. He was always a ‘people person’, and in people finally he is at peace with his career.

It is in his university years, in 1967, that the Indonesian Government required all Chinese Indonesian to bear an Indonesian name. He chose ‘Daniel Nazarudin’ as his name, stated by a decree on the same year. It is also in this period, that he met my mother, Ketty Wilandow (born Oey Ketty), a student at the Law School of the University of Parahyangan in Bandung. They told me a story of how they met: it involves a roundabout at Jl. Dr. Otten, Bandung. Under the shade of the waving mahogany branches, my father rode a motorcycle on one side of the roundabout, going from his dorm at Jl. Dago to his campus at Jl. Dipati Ukur, while my mother rode a motorcycle on the other side, going from her house at Jl. Pasirkaliki to her campus at Jl. Merdeka. Their family already knew each other, so the story is probably romanticized, but yet it is in those frequent rendezvouz that they fell in love. My mother, three years senior to my father, was fixing her mind to her study, not marriage. “But your father was very persistent” she said with a smile.

They got married in Queen Restaurant Bandung, on December 22nd , 1974. After the marriage, they had three children: Harry Hardianto Nazarudin, and twin sisters Erika Amelia Nazarudin and Erina Natania Nazarudin. My memories of my childhood were very happy ones, although we did not have much at that time. I remember my father went to work on a red ‘Duck’ Honda 50 motorcycle, often braving through rains and bad weather. I remember our first black and white TV, which was a great luxury for us. But my father always cherished his cars – it is by the cars he owns, he measures his success. We went from a frequently-broken battered-old Peugeot 405, to a rattling loud red Daihatsu Taft, and finally my father managed to buy his first pride: a green Honda Civic Wonder sedan. “I dreamt last night, that your grandpa came and had a look at our new car!” he exclaimed to me one morning.

Tooth by tooth, filling by filling, he managed to grow our family’s finances from scratch. We moved from a small house at Jl. Bima 155, where he had his private practice, to Jl. Walik 11. We spent some years there, then moved to Jl. Bima 98, right in front of his practice, so he does not have to travel far to go to work. This house was his dream: bought as a run-down house, he built it brick by brick over long periods of time, depending on a tight budget, to become a 2 story residence. His prized car also improved: now it’s a white Honda Accord Maestro. He used to polish and treat the car like his most valuable possession, nobody could tamper with its white paint.

Nothing could have prepared us for what was coming in 2007: on a dark day, July 15th, 2007, his daughter, dr. Erina Natania Nazarudin, who studied medicine and was sent on assignment in Fakfak, West Papua, lost her life in a car accident after having saved 2 lives: a mother and her baby with a birth problem. It was a shock for the whole family, whom hitherto had a peaceful, calm, and happy life. This was the first introduction to death, in its most dreadful form, for the whole family. My father was deeply saddened by the incident. But after a while, he seemed to accept it. “Erina is already happy in Heaven” he said, repeatedly. “It is the living that we need to take care of”.

Dad has an uncanny ability to laugh. Whenever he gathers with his companions, there is always laughter on the table. His friends call him names, and he would retaliate. He is a true sanguine: from laughter to anger, from sadness to joy, for him it’s just a matter of time. They were all short bursts – he was never sad or angry at long periods of time. He is always good with people, he can connect with almost everybody. Being a doctor, his true calling is to help people. And he is always proud of it. “Doctors work on their own – there is no boss to supervise you. So you can only be true to yourself” he said. That’s also why, he never became ‘a businessman’ he’d always wanted to be. The business world is just too complex for him – full of mischief and dark strategies. Yet, sometimes he became disappointed with himself, not being able to be ‘the rich businesspeople’.

On death, he had one wish. “I don’t want to be sick for a long time” he said once. “If my time comes, just make it quick – I don’t want to be a burden to the living”. Just a few weeks before, we had a conversation when he visited me in Jakarta, discussing about family members who have been given longevity. “Most of them, Dad, are not like your father – exuberant dynamic person with bursts of emotion. Most of them are calm, relaxed people, who accept life as it is and not trying to change it too much. So you have to be like that, if you want to live a long life” I told him. He smiled – he knew he’s not that type, and neither am I. On January 24th, 2012, in the arms of his wife Ketty Nazarudin, at their residence in Jl. Bima 98, Drg Daniel Nazarudin passed away suddenly after having his last dinner: a hearty portion of chicken satay and lontong from his favorite, RM Sate ‘Asli’ at Jl. Maulana Yusuf Bandung. He passed away according to his wish: blisteringly fast, sending another shockwave for the family.

But then again – as Dad always said: we need to care for the living, as the dead is already happy with Lord Jesus in Heaven. Looking back, if there is one thing that I could change, it is that I would like him to see myself making a family, going through struggles and tribulations as he did, listening to his advice along the way. It is rather sad that as my journey is starting, his ended. What I can do now, is to share memories of him, like he did with his own father, and uses it to propel my life into the future with great confidence and strength, so Dad would visit me in a dream one day when I buy my first Ferrarri and said: Well done son!  I know you can do it!

Farewell, Dad. Till we meet again.

PS: please pray for my mother, Ketty Nazarudin, who is currently being treated for stroke at a hospital. May the Lord give her strength to move on.

Bandung, 29 January 2011

Thursday, August 18, 2011

Antara Tubuh Dan Jiwa Yang Merdeka



Sebuah perenungan tentang kemerdekaan



The Israelites said to them, “If only we had died by the LORD’s hand in Egypt! There we sat around pots of meat and ate all the food we wanted, but you have brought us out into this desert to starve this entire assembly to death.”
Exodus 16:3
“Therefore, say to the Israelites: ‘I am the LORD, and I will bring you out from under the yoke of the Egyptians. I will free you from being slaves to them, and I will redeem you with an outstretched arm and with mighty acts of judgment.
Exodus 6:6



Merdeka! Senang bukan menyebutkannya? Kata ‘merdeka’ dalam bahasa Indonesia tidak memiliki padanan dalam bahasa Inggris. Terjemahan Inggris hanya memiliki ‘independence’ yang berarti kemandirian, atau ‘freedom’ yang berarti kebebasan. Yang satu berarti bisa menentukan nasib sendiri, yang lain artinya bebas melakukan apa saja. Tetapi, ‘merdeka’ memiliki arti ‘mandiri’ dan ‘bebas’ sekaligus, bahkan lebih dari itu. ‘Merdeka’ juga berarti sederajat, setara, punya kehormatan dan harga diri yang sejajar. Beruntunglah bahasa Indonesia yang memiliki kata ini. Pantas saja, dulu kata ‘Merdeka’ terpampang dimana-mana dan membuat penjajah Belanda terpana – karena menerjemahkannya pun mereka tak bisa!
Tapi, apakah kita sudah memahami arti kemerdekaan yang sesungguhnya? Merdeka bukanlah sesuatu yang indah-indah saja. Merdeka, pada saat didengungkan oleh Bung Karno dan kawan-kawan pejuang pada tahun 1945, adalah sebuah ide gila. Bukankah hidup dibawah penjajahan Belanda itu indah? Lihatlah rel kereta api yang dibangun, jalan raya Anyer – Panarukan. Lihatlah Pelabuhan Sunda Kelapa yang megah, lihatlah bangunan kolonial di Batavia yang indah dan tak kalah dengan negeri Belanda. Lihatlah karya arsitektur art deco tropis dari Schoemaker, dari Vila Isola sampai Hotel Homann. Indah bukan? Ya! Lihatlah pesta dansa-dansi a la Belanda di Harmonie. Tak heran, gaya hidup ini dinamai Mooi Indie – Hindia yang Cantik! Lalu, untuk apa merdeka? Untuk apa bebas? Untuk apa mandiri? Bukankah kita hidup enak dibawah lindungan payung oranye Kerajaan Belanda?



Inilah pertanyaan yang sama yang diajukan oleh bangsa Israel. Sesudah Allah menunjukkan kuasaNya yang luar biasa, dengan memberikan sepuluh tulah kepada Firaun dan negeri Mesir, termasuk meluputkan bangsa Israel dari kejaran Mesir dengan membelah Laut Merah, bukan puji syukur yang Ia dapatkan. Bukan sujud sembah yang Ia terima. Melainkan justru bangsa Israel yang bersungut-sungut! Ya Tuhan, bukankah lebih enak dijajah Mesir? Disana banyak roti dan daging. Disana banyak air. Memang, bangsa Israel dijajah. Tapi, dijajah kan tidak selalu dipecut, bukan? Dijajah juga berarti dijamin oleh penjajah. Tidak perlu memikirkan makan, semua disediakan majikan. Tidak perlu memikirkan infrastruktur, semuanya dibangun oleh majikan. Tidak perlu pusing membeli senjata, perlindungan diberikan oleh majikan. Enak bukan? Kalau sekali-kali dipecut sampai mati, atau disamakan dengan anjing dan dilarang masuk ke kelompok elit, ya itu sudah resiko!



Bukankah kenyataan ini adalah sebuah ironi? Ya, ironi yang begitu nyata. Bangsa Israel, dan Bangsa Indonesia, tidak boleh lupa. Allah memang berjanji menganugerahkan kemerdekaan, seperti yang Ia sabdakan dalam Keluaran 6:6. Ia menjanjikan tanah perjanjian, dimana semua orang bisa hidup sama rata, tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Namun, kemerdekaan itu mengandung tanggung jawab! Dengan merdeka, berarti suatu bangsa harus membangun segala sesuatunya sendiri. Suatu bangsa harus mencari makanannya sendiri, membangun jalan-jalannya sendiri, berperang sendiri, dan mempersenjatai diri sendiri. Dalam kisah keluarga bangsa Israel dari Mesir, terlihat berkali-kali bahwa walaupun bangsa Israel sudah keluar dari Mesir secara fisik, namun jiwa mereka masih jiwa bangsa jajahan. Pikiran mereka masih pikiran budak, padahal sudah merdeka. Mereka mau enaknya saja. Dibilang jangan makan manna hari Sabat, masih saja ada yang bandel. Diperintahkan menunggu diberi minum, masih saja bersungut-sungut. Bahkan, belum selesai Musa bercakap dengan Allah, mereka sudah membuat lembu emas dan memujanya! Namun, Allah dengan sabar namun tegas mendidik bangsa Israel untuk memerdekakan pikiran mereka, memerdekakan jiwa mereka. Kejam memang, dan butuh waktu 40 tahun sampai generasi bangsa Israel betul-betul merdeka. Bahkan Musa sendiripun tidak bisa masuk ke Tanah Perjanjian! Begitu kerasnya Allah mentransformasi jiwa sebuah bangsa, dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka. Karena, hanya bangsa merdeka sejati yang mengerti arti kemerdekaan, dan mengisinya dengan kemajuan dan kemakmuran!
Bangsa Indonesia kini sedang menempuh perjalanan yang sama. Lepas dari penjajahan Belanda, kita sudah secara fisik merdeka, namun mental kita masih mental negara jajahan. Kita kelimpungan mengatur keamanan, kesulitan mengatur produksi pangan, dan tertatih-tatih menata ekonomi. Hari-hari dibawah Orde Baru memang menawarkan kemajuan, namun akhirnya bangsa Indonesia jatuh lagi ke dalam penjajahan. Setelah reformasi, kita masih juga tertatih-tatih. Kita masih berusaha mengusir jiwa-jiwa terjajah, dan menggantikannya dengan pikiran-pikiran baru yang lebih bebas. Sudah banyak kemajuan! Seni dan budaya kini bisa dipraktekkan dengan bebas. Media pun bebas, setiap orang berhak dan layak berbicara. Indonesia menjadi negara yang toleran, dengan toleransi yang tidak dipaksakan, melainkan hadir dari lubuk hati setiap rakyatnya yang cinta damai. Bukan berarti tidak ada ancaman – ancaman selalu ada, namun Tuhan Allah senantiasa menyertai perjalanan bangsa kita.



Mengapa demikian? Tuhan kan tidak menurunkan manna untuk kita? Saudaraku, manna itu sudah turun. Dalam bentuk tanah yang subur. Dalam bentuk negara yang tetap bersatu. Dalam bentuk ekonomi yang bisa bangun sendiri tanpa campur tangan asing. Dalam bentuk setiap manusia Indonesia yang sambil tersenyum mengayuh becak atau mendorong gerobak, demi memutar roda ekonomi dan mencari sesuap nasi. Tidak ada negara selain Indonesia yang bisa selamat didera kerusuhan massal seperti 1998, krisis moneter dan melemahnya rupiah secara luar biasa, ataupun diinjak-injak oleh ego IMF yang ternyata lebih banyak membawa durjana daripada manfaat. Tapi, lihat kita sekarang! Berdiri tegak sebagai sebuah bangsa. Ekonomi kita sudah bangkit, bahkan bank-bank yang dulu begitu tinggi hati tahun 1998, sepuluh tahun kemudian meringkuk malu ketika kita tidak tersentuh krisis keuangan global berikutnya. Kita sudah selamat, melalui ancaman kiri dan kanan, tanpa campur tangan asing. Kita masih disini, saudaraku, adalah bukti kemuliaan Allah, penyertaan Allah atas bangsa ini.



Untuk itu, apa yang perlu kita lakukan selanjutnya? Mulailah berpikir dan bertindak seperti orang merdeka! Janganlah lagi berpikiran sebagai orang terjajah. Memerdekakan pikiran jauh lebih sulit daripada memerdekakan tubuh: ingat, Tuhan Allah hanya perlu waktu semalam untuk memerdekakan fisik Bangsa Israel dari Mesir, tetapi Ia butuh 40 tahun untuk memerdekakan jiwa mereka. Kita tidak perlu menunggu selama itu, karena prinsipnya sudah diberikanNya untuk kita pelajari.



Mulailah bertindak sebagai orang merdeka. Uruslah sandang, pangan, dan papan. Bangunlah jalan-jalan dan pelabuhan. Kobarkan semangat kemerdekaan melalui pidato, kata-kata yang menyegarkan, dan olah raga. Ingat, seperti yang Tuhan Allah lakukan, kita perlu ingatkan diri kita berulang-ulang, bahwa kita sudah merdeka. Terakhir, wujudkanlah kemerdekaan kita dalam peranan yang lebih aktif dalam percaturan hidup dunia. Tunjukkanlah, bahwa Indonesia – negara yang merdeka ini – selalu menjunjung tinggi asas kemerdekaan sejati, tanpa standar ganda dan kepentingan lainnya. Tunjukkanlah, bahwa toleransi dan kekeluargaan kita sudah menang melawan pertempuran panjang dengan ekstremisme dan individualisme. Tunjukkanlah, bahwa dengan senyum dan keringat, serta berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, kita sudah merdeka. Dan akan merdeka terus, sampai selamanya.



Tomang, 17 Agustus 2011

Wednesday, December 29, 2010

Kapan Terakhir Anda Bangga Jadi Orang Indonesia?

Buat Timnas Indonesia, yang baru saja memenangkan leg kedua, selamat! Bagaimanapun sistem kompetisinya, kalian sudah bisa memenangkan pertandingan 2-1 di Senayan, melewati masa krisis tertinggal 0-1 dan serangkaian kegugupan karena beban dan tuntutan media. Namun, Timnas Indonesia tetaplah menjadi pemenang kali ini. Jangan lupa, timnas punya satu jasa besar lagi di penghujung tahun ini: berhasil mengeluarkan jiwa seorang pemenang dalam diri kita, orang Indonesia!

Katakan saja sejujurnya: kapan terakhir kali Anda BANGGA jadi orang Indonesia?Bagus kalau masih ingat, tapi kebanyakan pasti sudah lupa. Kalau ditanya, kapan terakhir kali Anda MALU jadi orang Indonesia? Pasti semua lancar menjawab! Waktu Mas Gayus tertangkap basah menonton tennis dengan wig-nya yang belah tengah itu, waktu kita tidak berdaya melihat TKW kita disiksa diluar negri, dan lain-lain. Sangat mudah untuk MALU jadi orang Indonesia bukan? Susah bangganya!

Nah, inilah salah satu lagi jasa kalian, wahai Timnas Sepakbola Indonesia. Kalian berhasil membuat sekian banyak orang BANGGA menjadi orang Indonesia! Di kawasan Niaga Sudirman Jakarta, di Bekasi, Bandung, bahkan Surabaya dan Jayapura; atau di dunia maya, Twitter, Facebook, Blackberry Messenger; saya melihat jutaan nuansa merah putih di sana-sini, dengan tulisan yang menggetarkan jiwa: Garuda di dadaku. Lihatlah food court di mall yang baru saja saya kunjungi: berbagai orang dari berbagai lapisan masyarakat, yang kulitnya coklat, putih, kuning, hitam, jerawatan atau bahkan penuh burik, semuanya campur baur menonton perjuangan kalian. Tidak ada satupun yang berani menarik bayaran, atau meminta kita membayar tiket. Kan kita semua sama: orang Indonesia! Kursi food court yang biasanya jadi rebutan kini dibagi dengan ramah, bahkan beberapa orang yang tidak saling mengenal duduk semeja nonton bersama. Kok bisa? Karena kita sama-sama BANGGA jadi orang Indonesia!
Dan itu semua adalah jasa kalian, Timnas Sepakbola Indonesia! Kalian memberi alasan bagi kami untuk BANGGA jadi orang Indonesia!

Hingar-bingar ini mengingatkan orang pada Piala Dunia di Jerman tahun 2006. Banyak orang di Indonesia tidak menyadari bahwa Jerman juga memiliki krisis identitas, krisis nasionalisme. Nasionalisme Jerman dalam Perang Dunia II pernah menjadi sebuah bentuk yang menakutkan dibawah kekuasaan Partai Nazi-nya Adolf Hitler. Sejak itu, orang Jerman seringkali merasa ‘malu’ menjadi orang Jerman. Walaupun negara Jerman kini adalah negara supermaju dengan ekonomi superkuat, tapi krisis identitas itu tetaplah ada. Nama ‘Jerman’ selalu melekat pada ‘Nazi’ sehingga segala setiap warga Jerman takut untuk menyandang nasionalisme Jerman, tidak bangga menjadi orang Jerman.

Piala Dunia 2006 di Jerman mengubah semuanya. Olah raga, khususnya sepak bola yang memang populer di Jerman, menjadi jawabannya. Tiba-tiba, dengan sarana sepak bola, orang Jerman boleh berbangga lagi menjadi orang Jerman. Bendera Jerman berkibar-kibar di seluruh negri, di mobil-mobil, dan kaus Timnas Jerman marak dimana-mana. Saya yang berkunjung ke Jerman pada waktu itu beruntung bisa melihat eforia yang positif ini. Bahkan saya baru tahu salah satu rekan saya ternyata orang Jerman, dari bendera yang tertancap di jendela mobilnya. “Yes, I am German!” katanya BANGGA. Tidak ada lagi ketakutan karena diasosiasikan oleh Nazi. Yang ada hanya kebanggaan sebagai penyelenggara Piala Dunia, walaupun hanya jadi pemenang ketiga setelah Jerman kalah dari Italia di Semifinal. Namun, berkahnya luar biasa, membuat orang Jerman bisa BANGGA lagi jadi orang Jerman.

Inilah juga berkah yang dibawa oleh Timnas Sepakbola Indonesia, membuat kita BANGGA jadi orang Indonesia!

Dengan ini, teriring juga pesan untuk para pemimpin negri ini. Lihatlah rakyatmu yang sudah begitu haus dengan nasionalisme! Lihatlah semua orang yang berbaur menjadi dua warna: merah dan putih, walaupun dalam sebuah even lingkup ASEAN saja! Lihatlah rakyatmu yang sudah bosan MALU mendengar berita-berita miring tentang negrinya, dan begitu rindu untuk BANGGA jadi orang Indonesia! Dan penampilan Timnas Sepakbola Nasional tahun ini berhasil menjawab kerinduan itu. Bagaimana caranya? Gampang: dengan bersungguh-sungguh!

Lihatlah kesungguhan Alfred Riedl dalam mengatur tim-nya. Lihatlah kesungguhan Irfan Bachdim, Gonzales, Nasuha, M. Ridwan, dan kawan-kawan, begitu mereka melihat jutaan orang mendukung mereka di kursi stadion. Saya yakin, walaupun Gonzales disogok milyaran rupiah untuk mengalah pada timnas Malaysia, atau Bambang Pamungkas disogok berkilo-kilo emas untuk membuat gol bunuh diri ke gawang Indonesia, tidak ada yang bergeming. Bahkan supporter pun tidak terpancing menggunakan laser di Senayan. Mengapa? Karena kesungguhan mereka, nasionalisme mereka, BANGGA-nya mereka menjadi orang Indonesia! Inilah benteng anti korupsi, benteng anti nepotisme, benteng anti kolusi yang sudah kita lupakan: NASIONALISME!

Ingat, bahwa bangsa ini dibangun hanya bermodalkan nasionalisme. Sebelum 1945, kita belum jadi satu bangsa. Kita terpecah-pecah, tersebar di ribuan pulau yang sulit berkomunikasi satu sama lain. Kita terbelah, kiri-kanan maupun atas-bawah. Namun, dengan hentakan pidato Bung Karno, serta gelombang pemikiran brilyan para bapak bangsa kita, jutaan manusia penghuni ribuan pulau ini bisa bersatu dibawah panji Indonesia. Bukan hanya itu, bahkan gerombolan manusia ini berani mendeklarasikan diri sebagai berbangsa satu, bertanah air satu, Indonesia! Lebih gilanya lagi, rombongan massa ini bisa membuat bahasa-nya sendiri: Bahasa Indonesia, yang kemudian digunakan oleh lebih dari 240 juta orang Indonesia. Sadarkah Anda? Kita satu-satunya bangsa di dunia yang berhasil membuat bahasa sendiri, tidak mencontek Inggris atau Belanda! Padahal, apa sih pengikat kita sebenarnya? Hanya sama-sama bekas jajahan Belanda! Lihatlah: berangkat dari sebuah ‘bekas jajahan’, nasionalisme berhasil membawa Indonesia menjadi sebuah bangsa. Itulah dahsyatnya nasionalisme!

Jadi, wahai pemimpin negri, kembalilah ke akar bangsa ini, kembalilah ke apa yang membuat kita kuat: Nasionalisme! Gaungkanlah semangatnya dimana-mana melalui olah raga. Uruslah sepak bola dengan benar, bulu tangkis harus terus dibina, semua cabang olah raga harap digarap dengan becus. Dan, kobarkanlah semangat nasionalisme dengan kata dan tindakan. Niscaya, bukan saja piala AFF atau Piala Asia, bahkan Piala Dunia-pun akan bisa kita raih. Mengapa tidak? Masakan dari 240 juta orang Indonesia kita tidak bisa menemukan 11 orang yang bisa main bola sampai juara?

Ayo teruskan perjuangan kalian Timnas Indonesia! Ingatkan lagi pada kami, betapa BANGGA-nya jadi orang Indonesia!

Jakarta, 29 Desember 2010

Tuesday, November 9, 2010

Pertarungan Para Dewa

Kisah ‘Pertarungan Para Dewa’ atau Clash of the Titans adalah salah satu kisah legenda Yunani yang cukup terkenal dan bahkan sudah pernah difilmkan oleh sutradara Hollywood. Kisah ini adalah kisah yang sangat menarik untuk diperhatikan, terutama di masa sekarang ini yang konon katanya penuh dengan bencana dari Tuhan. Kisah ini dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana: mengapa para dewa begitu kejam menyiksa manusia? Mengapa para dewa begitu bengis, memaksa manusia untuk memberikan berbagai macam persembahan, dan sesudah semuanya dipenuhi, toh akhirnya manusia pula yang disiksa dengan berbagai cobaan?

Adalah Perseus, seorang manusia setengah dewa, anak haram dewa Zeus, yang dibesarkan oleh keluarga nelayan yang mengasihinya dengan sepenuh hati. Ia begitu sayang kepada orang tua angkatnya, manusia yang lemah dan ringkih ini, sehingga ia merasa kasihan pada mereka dan justru marah pada dewa. Mengapa orang-orang baik ini, nelayan tak berdosa ini, seolah-olah diperas habis-habisan oleh dewa-dewi di Olympus, yang seharusnya melindungi dan mengasihi manusia? Apalagi, ketika Hades, Dewa Kegelapan, seenaknya mengirimkan bala tentara setan yang tanpa sengaja membunuh orang tua angkat Perseus. Perseus pun murka.

Perseus kemudian bersumpah, akan menggunakan kekuatan manusia – tanpa ke-dewa-annya – untuk membunuh Hades dengan cara menghancurkan Kraken, mahluk mahamengerikan ciptaan Hades yang bisa memunahkan umat manusia. Perseus pun berjuang menghadapi penyihir Stygi, hantu Djinn, bahkan berhasil memotong kepala Medusa, dewi mengerikan berambut ular yang bisa mengubah semua mahluk yang dipandangnya menjadi batu. Sepanjang perjalanan, Perseus terus memperjuangkan kemanusiaannya, dengan sesedikit mungkin menggunakan kekuatan mukjijat, melainkan dengan tipu muslihat dan akal sederhana, sampai ia bisa mengakali para dewa. Toh, Zeus, sang ayah, tidak tinggal diam. Ia mengirimkan Pegasus, kuda bersayap kendaraannya, dan sebilah pedang yang ditempa di Olympus, yang sanggup memenggal kepala seorang dewi seperti Medusa sekalipun.

Tapi, apakah Zeus membantu Perseus dengan melontarkan petir pada setiap lawan yang dihadapinya? Tidak. Zeus duduk memandang dengan cemas di Olympus, berharap Perseus menang. Perseus tidak serta-merta menang dengan kuda terbang dan pedang. Ia harus bertarung, memeras akal, dan melalui gunung-gemunung dan sungai maut untuk mencapai tujuannya. Namun, Perseus akhirnya berhasil. Ia potong kepala Medusa, dan dibawanya ke hadapan Kraken, sehingga Kraken, raksasa mengerikan itu, menjadi batu dan kemudian hancur berantakan. Hidup manusia! Teriak Perseus ketika Kraken yang bersiap menelan semua mahluk hidup, kini menjadi batu yang retak berguguran.

Kisah ini memang sebuah adaptasi, namun mengandung makna filosofis yang cukup mendalam. Pertanyaan pertama masih belum terjawab: mengapa Tuhan merancang begitu banyak bencana bagi manusia? Mengapa semua persembahan dan doa yang dipanjatkan, semua dzikir dan pertobatan yang diteriakkan, kadang-kadang seolah jatuh ke sepasang telinga yang tuli? Toh, gunung tetap meletus, tsunami tetap menerjang, dan badai tetap mengamuk? Inilah titik dasar dari pergumulan dalam kisah ini. Dengan demikian, apakah manusia masih harus berdoa dan bersembahyang? Apakah sudah tidak ada gunanya lagi, memberikan persembahan dan bertobat? Lalu, pertanyaan akhir yang selalu muncul: dengan demikian, apakah Tuhan ada?

Kisah Pertarungan Para Dewa merupakan sebuah kisah yang sangat tepat melukiskan pergumulan ini. Manusia memang tidak bisa bertopang dagu saja – kita perlu seorang Perseus. Seorang pemimpin, yang berani lantang berteriak untuk menantang para dewa. Seseorang yang berani menghunus pedang dan berbuat sesuatu, untuk melawan apa yang terjadi. Bukan dengan doa, bukan dengan dzikir, dan bukan dengan lebih banyak lagi persembahan. Tetapi dengan sebilah pedang, dan semangat kemanusiaan, bahwa apapun masalah yang ada, bisa ditaklukkan: apakah itu kepala Medusa berambut ular yang harus dipotong ataupun Kalajengking Raksasa di padang gurun. Ya: semuanya harus dilawan dengan sabetan pedang, cipratan darah, dan keringat. Tapi, Perseus akhirnya menang!

Perseus memiliki makna berbuat sesuatu. Inilah yang kurang kita lakukan. Setiap kali ada bencana, yang diteriakkan adalah keprihatinan, kesedihan, teriakan dzikir dan doa, memohon pada Tuhan supaya bencana berhenti. Kita seperti Spyros, nelayan ayah angkat Perseus, yang hanya bisa meratap lalu mati ditelan ombak! Bahkan manusia seperti ini, seolah dengan mudah saja ‘menyalahkan’ Tuhan atas bencana yang terjadi, sebagai pelarian untuk lepas tanggung jawab, padahal bencana itu terjadi karena kelalaian sendiri.

Coba ingat ‘bencana’ Situ Gintung yang sebenarnya bukan ‘bencana’, melainkan sebuah kelalaian murni. Lihatlah betapa pemuka agama waktu itu berteriak pada semua orang untuk ‘tabah atas cobaan Tuhan ini’? Ini sama sekali bukan hasil karya Tuhan, bahkan Tuhan bisa tersinggung dengan pernyataan ini. Bukan Dia yang membangun situ, bukan Dia pula yang membangun rumah di jalur situ, dan bukan Dia pula yang bertugas mengontrol keretakan dindingnya! Dia hanya menciptakan hukum Fisika, yang merumuskan bahwa air yang terus menerus ditambahkan pada sebuah bejana berdinding tipis akan mampu menjebol dinding tersebut. Lalu, kita sebut ini ‘cobaan Tuhan’? Mohon maaf – ini murni manusia yang mencobai manusia lainnya!

Lalu bagaimana dengan tsunami, bencana gunung berapi? Untuk ini, kita harus melihat bagaimana prinsip Perseus mendasari pemikiran bangsa Eropa. Di Jerman, saya pernah menghadiri sebuah rapat didalam ruangan yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Padahal, waktu itu bulan Desember dan angina bertiup kencang sekali. Pohon cemara melambar-lambar, menghamburkan salju yang turun kebawah, sementara di atas tanah sudah ada 40 cm salju yang menumpuk sejak kemarin. Suhu diluar -15oC. Tapi, kami bisa duduk nyaman di ruangan itu. Suhu ruangan 28oC, tak sedikitpun angina dari luar terasa masuk ke ruangan. Padahal, pemandangan indah bisa kami nikmati lewa kaca. Bagaimana caranya? Dengan doa? Dzikir? Persembahan? Tidak! Dengan teknologi. Seluruh kaca terbuat dari silica dengan teknologi tertentu yang anti-pecah, merupakan system kaca ganda dengan gas Argon yang diinjeksikan diantara dua kaca agar hawa dingin terinsulasi. Dinding, penyekat, atap, bahkan tiang penyangga, semua didesain untuk menahan dingin dan menyimpan panas. Inilah pedang Perseus yang ditempa di Olympus. Dengan teknologi, orang Jerman bisa mengalahkan cuaca, sementara orang di Mongolia, Cina, atau India, masih harus meringkuk kedinginan di musim dingin yang tidak sedingin di Jerman hari itu.

Indonesia perlu Perseus – yang tidak menyerah dan berdoa, apalagi menyerahkan tanggung jawab pada Tuha. Indonesia perlu Perseus, yang menggunakan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk melindungi diri dari kemungkinan bencana. Bahwa kita lahir di sebuah pulau yang dikelilingi laut dan memiliki gunung berapi di tengahnya, sudah bukan rahasia lagi sejak awal. Lalu mengapa kita masih gelagapan menghadapi tsunami dan letusan gunung api? Karena kita masih Spyros, belum Perseus. Nah, celakanya, Perseus ini harus dating dari Indonesia dan tidak bisa diimpor dari Eropa atau Amerika. Karena, tidak ada satupun Negara di dunia ini yang memiliki gunung api dan garis pantai sepanjang Indonesia. Kita tidak bisa bertanya pada orang Barat atau Jepang atau Cina, bagaimana menghadapi letusan gunung berapi dan tsunami. Teknologinya harus dating dari kita sendiri! Apakah dengan cara mengukur suhu perut bumi, atau dengan mengukur getaran gempa secara tiga dimensi, atau dengan melakukan finite element analysis terhadap pergerakan pelat bumi? Wallahualam. Yang jelas, sesuatu harus dilakukan – seperti Perseus, kita harus berjuang, meneliti, mengeluarkan energi dan dana, untuk melindungi kita dari kemarahan para dewa. Tidak pernah cukup hanya berdoa dan bersembahyang!

Lalu, apakah Tuhan diperlukan? Toh, di kisah ini, Perseus tidak mungkin menang tanpa pedang yang ditempa di Olympus, bukan? Perseus tidak mungkin menang tanpa Pegasus, tanpa bantuan dari Io, maupun tanpa tiga tali keeping Drachma untuk sang pengemudi perahu, bukan? Ya – Tuhan itu ada dan Ia pasti akan bertindak. Namun, jangan berharap Tuhan akan turun dari langit dan membereskan masalah kita semua – hanya karena kita berdoa dan berdzikir. Berdoa bagus, berdzikir apalagi. Tapi, keduanya harus disertai dengan perbuatan – pertempuran, sabetan pedang – supaya perang bisa dimenangkan. Toh, Zeus tersenyum bangga ketika Perseus bisa menyelamatkan manusia dengan usahanya sendiri. Tuhan pun, akan tersenyum bangga jika kita, bangsa Indonesia, bisa menghadapi bencana-bencana dengan rencana teknis dan taktis yang bisa melindungi kita dari fenomena ala mini. Ia justru akan murka, ketika doa dan dzikir dijadikan alat untuk melempar tanggung jawab dari manusia, kepada Tuhan yang tidak bersalah!